Home RELIGIHaul Ke 44 KH. Abdul Hamid Diisi Catatan Prestasi Perjuangannya

Haul Ke 44 KH. Abdul Hamid Diisi Catatan Prestasi Perjuangannya

by Redaksi

LAMONGAN.SabdaNews.com-  Peringatan Haul ke 44 KH Hamid Faqih Karang Binangun Lamongan dilaksanakan di kampung kediaman almaghfurllah Karang Binangun, Kamis dan Jum’at (30-31/5/2024). Hadir dalam acara tersebut KH. Thoha Abrori dari Bojonegoro mengisi tabligh, Ust. Mahrus Ali dari Gresik dan Ust. Nur Hidayatullah dari Mojokerto keduanya memimpin sholawat dan Gus Ata Syifa’ Nugraha dari PP Ihyaul Ulum Gresik memimpin tahlil.

Ketua Panitia Ust. Muntadhim mengungkapkan, rangkaian kegiatan dimulai Kamis dengan khotmil Qur’an bil ghaib di masjid Ussisa Alattaqwa Karangbinangun. Kemudian dilanjutkan ziarah ke makam KH. Abdul Hamid Faqih pukul 15.30 WIB di Makam Islam Kecamatan Dukun, Gresik. Berikutnya pukul 19.30 WIB berlangsung Tahlil dan Tabligh Akbar yang disampaikan oleh KH. Thoha Abrori dari Bojonegoro. Pada hari Jum’at dilangsungkan gebyar sholawat menghadirkan Ust Mahrus Ali dari Gresik dan Ust Nur Hidayatullah dari Mojokerto serta group Sholawat Asbaabul Musthofa Karangbinangun Lamongan.

Ust. Muntadhim yang juga cucu KH. Abdul Hamid juga memaparkan silsilah keluarganya dan paparan catatan prestasi perjuangan KH. Hamid Faqih. “Sejarah Singkat KH. Abdul Hamid Faqih lahir 1895 di desa Sembungan Kidul Dukun Gresik, wafat 1981 merupakan salah seorang ulama dari pesantren Maskumambang Dukun Gresik,” kata Muntadhim.
Selanjutnya tambah Muntadhim, KH. Hamid Faqih aktif sebagai pimpinan Taswirul Afkar Surabaya yang berdiri sebelum adanya Nahdlatul Ulama oleh KH. Wahab Hasbullah, KH. Mas Mansur, dan KH. Dahlan Achyad.

“Beliau putra kedua dari KH. Faqih al Maskumambangi dan keponakan dari KH. Dahlan Achyad Kebondalem Surabaya yang dikenal sebagai Wakil Rais Akbar Pertama Nahdlatul Ulama. Beliau juga sempat mendirikan pesantren Ussisa Alattaqwa di Karangbinangun Lamongan,” katanya. Namun tambah Tadhim, karena adanya serangan agresi Belanda 1947 pesantrennya tidak bisa berlanjut, kemudian beliau kembali aktif mengabdi di Taswirul Afkar Surabaya dan Pesantren Kebondalem Surabaya.
Menurut Muntadhim,

bukti ketokohan KH. Abdul Hamid Faqih didokumentasikan sebagai salah satu dari muassis Nahdlatul Ulama yang didirikan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari bersama belasan Kyai lain di Kertopaten Surabaya 31 Januari 1926. Bahkan beliau pencetus nama “Nuhudlul Ulama” sebelum ada usulan nama “Nahdlatul Ulama” dari KH. Mas Alwi Surabaya.

“Peninggalan beliau yang sampai sekarang digunakan oleh masyarakat adalah masjid Ussisa Alattaqwa dan lembaga pendidikan al Qur’an di Karangbinangun Lamongan,” katanya. Untuk mengenang perjuangan beliau didirikan Masjid Abdul Hamid Al Faqih di Banyu Urip Kecamatan Ujung Pangkah Gresik beserta prasasti dengan desain unik masjid berbentuk perahu atau kapal yg menjadi destinasi wisata wilayah utara Gresik.

Menurut Muntadhim, beberapa santri KH. Hamid Faqih menjadi ulama nasional maupun regional di antaranya KH. A. Syaikhu tokoh NU pendiri Ittihadul Muballighin Jakarta, KH. Usman al Ishaqi Sawahpulo Surabaya, KH. Abdullah Faqih pendiri PP. Mambaus Sholihin Suci Gresik, KH. Masrur Pringgoboyo Lamongan, dan ulama-ulama lain sekitar Gresik, Lamongan, dan Surabaya. ( Cak Fail/Gus/Red)

You may also like

Leave a Comment