SabdaNews.com – Internal Partai Golkar terus memanas, setelah muncul desakan agar ketua umum Partai Golkar Airlangga Hartarto segera mundur dari jabatannya karena dianggap gagal melaksanakan amanat Munas 2019 yakni Partai Golkar mencalonkan Airlangga Hartarto maju di Pilpres 2024.
Ironisnya lagi, ada kecurigaan kuat Partai Golkar akan mendukung capres dan cawapres selain Airlangga Hartarto tanpa merubah keputusan Munas 2019 melalui Munaslub. Tak ayal, kader kader senior Partai Golkar pun turun gunung mengingatkan supaya mekanisme yang ada di AD/ART dipatuhi.
Yang terbaru, sejumlah daerah di Indonesia, berharap sosok Luhut Binsar Panjaitan (LBP) bisa menggantikan Airlangga Hartarto untuk memimpin partai berlambang pohon beringin sekaligus menyelamatkan partai dalam menghadapi pemilu 2024 yang sudah di depan mata.
“Dari komunikasi dengan sejumlah kader partai di bawah dan di sejumlah daerah di Jawa Timur, semua sepakat mendukung LBP untuk menggantikan Airlangga Hartarto. Untuk bisa terwujud hal tersebut, tentunya harus dilakukan Munaslub,” kata dewan pakar DPD Partai Golkar Jawa Timur Yusuf Husni, Sabtu (22/7/2023).
Pria yang juga ketua PPK Kosgoro 1957 ini mengatakan saat ini kondisi Partai Golkar sudah semakin tidak terarah terlebih sudah mendekati Pemilu 2024 mendatang.
“Partai Golkar harus diselamatkan agar tidak menjadi partai gurem. Salah satu penyelematannya yaitu mengganti Airlangga Hartarto dan kami sebagai kader dan tokoh senior partai melihat LBP sangat layak pimpin Partai Golkar,” dalih Cak Ucup sapaan akrabnya.
Kenapa dipilih LBP? Dengan diplomatis Cak Ucup mengatakan bahwa Partai Golkar butuh seorang pemimpin yang memiliki karakter khusus dalam menghadapi situasi sangat sulit untuk recovery politik agar Partai Golkar tetap survive di pemilu 2024.
“Banyak kader yang mumpuni, namun nahkoda Partai Golkar harus punya karakter politik seperti Sambo. Dan saya kira hanya satu yang memiliki itu yaitu pak LBP,” tegasnya.
Menurut Yusuf Husni ketum Airlangga Hartarto dan pengurus DPP Partai Golkar sudah dipastikan tidak bisa melaksanakan amanat Munas 2019.
“Semenjak dipanggil Kejagung survei sudah turun, apalagi jika nantinya jadi tersangka bisa jadi terpuruk partai ini. Desakan untuk mengganti Airlangga Hartarto adalah sekali lagi untuk menyelamatkan partai,” terang mantan anggota DPRD Jatim.
Turunnya survei partai, kata Yusuf Husni, tidak sesuai dengan jargon politik di setiap acara konsolidasi partai Golkar yaitu “Golkar Menang, Airlangga Presiden,”.
“Jelas jika dibiarkan berlarut-larut Partai Golkar tidak akan jadi pemenang pemilu,” jelasnya.
Sebagaimana diketahui, amanat munas 2019 lalu memberi mandat kepada Airlangga Hartarto sebagai ketum untuk menjadi capres.
“Awalnya proses berjalan dengan terbentuknya KIB (Koalisi Indonesia Bersatu). Namun di tengah jalan, sekarang ini malah gembos karena terkena ranjau politik. Dengan fakta tersebut, tentunya Airlangga Hartarto tidak akan bisa bisa merealisasikan mimpi politiknya tersebut,” ungkap Yusuf Husni.
Dengan melihat kondisi Partai Golkar saat ini di tingkat pusat, maka lanjutnya, para kader partai di daerah merasa gelisah dan semua sepakat jalan satu-satunya untuk menyelamatkan partai adalah mengganti Airlangga Hartarto dan segera secepatnya digelar munaslub.
“Selamatkan Partai dengan Gelar Munaslub dan dukung Luhut Binsar Pandjaitan pimpin Golkar,” pungkasnya. (tis)