SabdaNews.com- Pengajian Ahad Pagi yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kebomas Kabupaten Gresik pada Ahad (20/9/2026) ini mengangkat tema mengetuk pintu langit memperbaiki hubungan di bumi. engajian yang diselenggarakan di Masjid At-Taqwa Giri Cabang Kebomas pada 9 Rabiulakhir 1448 Hijriah ini menghadirkan KH. Drs. Masyhad Bahri, SH, M.Pd.I. sebagai narasumber. KH. Drs. Masyhad Bahri, SH, M.Pd.I. menerangkan tema yang diberikan dengan kandungan Surah Ali Imran Ayat 112 kepada jamaah yang hadir pagi ini.
Di dalam Surah Ali Imran itu Allah Swt mengatakan “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”
Pembimbing Jama’ah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya ini menjelaskan diantara kebodohan orang-orang Yahudi : “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia”. Mereka tidak akan menang dengan sendirinya, tanpa bantuan dari orang-orang lain, baik itu kalangan Arab ataupun selain dari mereka, bahkan mereka melalukan peperangan bersama kaum mereka sendiri sebelum datangnya islam, akan tetapi kehinaan meliputi mereka tatkala Nabi Isa diutus kepada mereka lalu mereka mendustakannya.
Ustaz Masyhad lalu menyampaikan bahwa Kaum Yahudi memang memiliki segala macam persenjataan yang canggih, akan tetapi hal yang hilang dari mereka adalah keteguhan, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada” . Dan sungguh kaum Yahudi itu tidak akan pernah memiliki akal yang sehat dan tidak pula mereka meraih petunjuk sebagai pedoman, dan strategi yang mereka miliki hanyalah fitnah, perang, dan pengrusakan, tetapi mereka tidak menyadari bahwa Allah selalu mengintai dan mengawasi apapun yang mereka perbuat.
Hal yang berbeda ujar ustaz Masyhad akan dirasakan dan diberikan kepada hambaNya yang gemar mengetuk pintu langit memperbaiki hubungan di bumi, contoh sejarah adalah sosok Jenderal Soedirman yang tak lepas dari wudlu. Jenderal Besar Soedirman dikenal sebagai sosok pemimpin yang disiplin menjaga kesucian diri dengan senantiasa berwudhu dalam kondisi apa pun, termasuk di tengah kerasnya medan perang gerilya. Kebiasaan spiritual yang tidak pernah putus wudhu ini dianggap sebagai “jimat” batiniah atau rahasia keteguhan beliau, di samping prinsip-prinsip utama lainnya. Menjaga Wudhu: Selalu berusaha berada dalam keadaan suci (berwudhu) sepanjang waktu, bahkan saat sakit atau berpindah-pindah tempat.
Shalat Tepat Waktu: Disiplin mendirikan shalat fardhu di awal waktu dalam situasi genting apa pun. Dan berbakti pada Orang Tua: Menjunjung tinggi nilai penghormatan dan pengabdian kepada orang tua serta senantiasa bertawakal kepada Allah.Prinsip dan kedisiplinan religius inilah yang tidak hanya membentuk keteladanan moral, tetapi juga membakar semangat juang Panglima Besar Soedirman dalam mempertahankan kemerdekaan Indonenesia. ( Kontributor Mahfudz Efendi/Red)
