SabdaNews.com — Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa generasi muda harus ditempatkan sebagai mitra strategis dan pencipta bersama (co-creators) dalam pembangunan. Anak muda tidak lagi cukup hanya menjadi penerima manfaat (beneficiaries), tetapi harus terlibat aktif dalam merancang masa depan Jawa Timur.
Hal tersebut disampaikan Wagub Emil dalam Leadership Dialogue on Youth Engagement and Regional Innovation bersama mahasiswa The Academy dari Western Sydney University (WSU) dan Western Sydney University Indonesia (WSUI) di Ruang Kertanegara, Kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Surabaya, Senin (7/9/2026).
Mengangkat tema “Empowering Young People to Shape East Java’s Future”, dialog tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus penguatan jejaring antara mahasiswa internasional dan generasi muda di Jawa Timur.
“Anak-anak muda tidak boleh berhenti sebagai penerima manfaat pembangunan. Mereka harus menjadi mitra strategis, pencipta bersama, bahkan arsitek pembangunan yang turut menentukan arah masa depan Jawa Timur,” ujar Emil.
Menurutnya, keterlibatan aktif generasi muda akan melahirkan innovation dividend, yakni manfaat pembangunan yang tumbuh dari kreativitas, inovasi, produktivitas, dan kolaborasi anak muda.
Emil mengatakan, kehadiran mahasiswa dari Sydney di Jawa Timur merupakan wujud nyata kolaborasi internasional yang dapat membuka jejaring bernilai strategis bagi pemuda lokal. Terlebih, mereka terhubung langsung dengan mahasiswa Western Sydney University yang menempuh pendidikan di kampus Surabaya.
“Mahasiswa dari Sydney datang ke Jawa Timur, dan ini menjadi sebuah jejaring yang sangat berharga. Mereka terhubung langsung dengan mahasiswa Western Sydney University yang menempuh studi di kampus Surabaya.” ujar Wagub Emil.
Menurut Emil, jejaring tersebut dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan kepemudaan sekaligus perekonomian Jawa Timur. Semakin banyak mahasiswa internasional mengenal Jawa Timur, semakin terbuka pula peluang kerja sama yang dapat dikembangkan di berbagai bidang.
Kolaborasi tersebut juga diperkuat melalui kerja sama antara Western Sydney University dan Universitas Brawijaya. Emil berharap kemitraan antarkampus tersebut terus berkembang dalam bentuk pertukaran pengetahuan, riset, inovasi, dan pengembangan kapasitas mahasiswa.
“Tantangannya sekarang bukan sekadar menciptakan lapangan kerja, melainkan memastikan anak-anak muda memiliki keterampilan, akses, dan jalur menuju pekerjaan yang bermakna. Investasi pada pembangunan pemuda hari ini akan menciptakan Jawa Timur yang lebih inovatif, inklusif, dan sejahtera di masa depan.” tegasnya.
Guna menjawab tantangan transisi dunia kerja tersebut, Pemprov Jatim terus menguatkan kualitas SDM melalui program Jatim Cerdas, perluasan Beasiswa Pemprov Jatim, hingga kehadiran kampus internasional. Selain itu, program Youth Creativepreneur Centre (YC2) dan Millennial Job Centre (MJC) terus dioptimalkan untuk menghubungkan talenta muda dengan proyek industri serta mentorship profesional.
Lebih lanjut, Wagub Emil menyoroti sektor ekonomi kreatif dan digital sebagai bidang yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Jawa Timur. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa pengembangannya harus tetap beriringan dengan sektor manufaktur dan pertanian yang kokoh.
“Ruang tumbuhnya masih luas, namun ekonomi kreatif dan digital tidak bisa berdiri sendiri tanpa ditopang oleh sektor industri manufaktur yang kokoh. Semuanya harus berjalan berseiringan.” jelas Emil.
Dalam kesempatan tersebut, Emil turut menyoroti penyesuaian kurikulum pendidikan vokasi agar relevan dengan kebutuhan industri masa depan (green jobs). Melalui kolaborasi bersama Bappenas dan GIZ Jerman dalam program GEDSI, lulusan vokasi dibekali penguasaan teknologi ramah lingkungan, seperti kendaraan listrik (electric vehicle), sistem pengisian SPKLU, hingga transisi teknik mesin menuju mekatronik.
Menutup keterangannya, Emil menegaskan pentingnya perubahan pendekatan pemerintah yang lebih partisipatif (multi-stakeholder) dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Pemerintah tidak bisa lagi merancang semuanya sendiri. Program pembangunan akan berhasil jika masyarakat ikut berpartisipasi dan menggerakkan. Ketika pemuda diberikan keterampilan untuk bersaing, kepercayaan untuk memimpin, dan kesempatan untuk berkreasi, mereka tidak lagi sekadar menjadi penerima manfaat, tetapi menjadi arsitek pembangunan itu sendiri untuk mewujudkan innovation dividend di Jawa Timur.” pungkas Emil.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan komunitas, jejaring yang terbentuk diharapkan terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi masa depan Jawa Timur. (pun)
