Komunikasi Publik Semrawut, Membuat Rakyat Kalang Kabut

0
131

SabdaNews.com – Salah satu yang menjadi problem penanganan covid-19 adalah perkara komunikasi publik. Dalam pernyataannya pada Sidang Kabinet Terbatas lalu, saat mengevaluasi PPKM Darurat, Presiden mengeluhkan komunikasi publik para pejabat.

Menanggapi hal itu, Suko Widodo, akademisi Universitas Airlangga Surabaya menyatakan apa yang disampaikan Pak Jokowi benar adanya. Karena sejauh ini pemerintah lebih banyak bersosialisasi daripada berkomunikasi.

“Pemerintah lebih banyak menyampaikan instruksi. Bukan malah mendengarkan apa yang dirasakan rakyat”, ujarnya saat dikonfirmasi Jumat (23/7/2021).

Komunikasi itu, lanjut Suko bukan sekedar bicara, tetapi juga wajib mendengarkan suara masyarakat.
Mestinya, komunikasi publik juga dikelola secara profesional. Dimulai dengan memahami karater dan kondisi masyarakat.

“Jika perlu lakukan riset untuk mengetahui persis kondisi warga. Jangan dikira-kira saja”, imbuh akademisi murah senyum ini.

Dalam situasi darurat, pemerintah jangan hanya menjadi instruktor atau tukang menginstruksi. Tetapi juga harus bisa berkolaborasi. Karena nyatanya apa yang dilakukan pemerintah juga masih belum memenuhi harapan.

“Bahkan tak jarang menambah beban masyarakat,” tegas Suko. Saat ini dibutuhkan solidaritas bersama. Masyarakat juga perlu dilibatkan total menjaga kesehatan dan menghindari covid-19. Karena itulah, komunikasi publik sangat essensial dalam upaya membangun solidaritas masyarakat mengatasi pandemi covid-19.

Pada sisi lain, Suko menyatakan bahwa jika komunikasinya tak segera diperbaiki, maka tingkat kepercayaan kepada presiden maupun pemerintah bisa runtuh. Saat ini saja, sebagaimana riset LSI tentang kepercayaan pada Pak Jokowi di bawah 50% (43%).

Menurut Suko, yang juga sering meneliti komunikasi politik, siapapun yang jadi pemimpin saat ini berat. Karena itu dia menyarankan agar fungsi komunikasi dimaksimalkan dengan cara-cara yang tepat. Komunikasi publik bisa memulihkan kepercayaan manakala komunikasinya disertai dengan kejelasan, kejujuran dan empati.

“Kepercayaan sangat dibutuhkan untuk melahirkan soliditas warga, ” beber pakar komunikasi politik ini.

Ia juga menyarankan Satgas Covid-19 yang ada di lapangan dilatih berkomunikasi. Agar bisa sabar dan tidak mudah terpancing reaksi warga di lapangan. Kemudian melakukan pendekatan personal kepada para tokoh potensial yang berseberangan dengan kebijakan pemerintah.

“Buat pusat komunikasi publik, yang menyadiakan multi plastform, serta sediakan data akurat dan layanan yang komunikatif. Kalau perlu lakukan kerjasama dengan lembaga media,” pungkas Suko Widodo. (tis)

Leave a reply