Satgas Covid-19 dan DPRD Jatim Tegaskan Melonjaknya Kasus Baru Covid-19 di Bangkalan Bukan Varian Baru Dari Luar Negeri

0
101

SabdaNews.com – Ketua Satgas Kuratif Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhdi menegaskan bahwa meningkatkan kasus baru Covid-19 di Kabupaten Bangkalan dalam sepekan terakhir bukan disebabkan oleh varian baru atau mutasi corona virus desiase 2019. Sehingga pihaknya berharap masyarakat tetap tenang dan waspada serta tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Saya pastikan sebaran Covid-19 di Bangkalan itu bukan jenis varian baru dari luar negeri. Sebab di Jatim memang ditemukan 1 kasus Covid-9 varian baru dari PMI (Pekerja Migran Indonesia) saat dilakukan karantina. Tapi yang bersangkutan sudah dinyatakan sembuh dan itu bukan dari Madura,” jelas Joni Wahyuhadi usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi E DPRD Jatim di kantor DPRD Jatim, Kamis (10/6/2021).

Lebih jauh Dirut RSUD dr Soetomo Surabaya ini menjelaskan bahwa ITD Unair saat ini tengah menganalisa sampel kasus Covid-19 di Bangkalan dan hasilnya diperkirakan baru pada Sabtu (12/6) mendatang. “Jadi kalau ada yang bilang Covid-19 di Bangkalan itu varian baru dari luar negeri adalah tidak benar,” tegas Joni.

Peningkatan kasus Covid-19 paska lebaran memang sudah diprediksi lantaran perayaan Idul Fitri 1442 H bersamaan dengan kepulangan puluhan ribu PMI dari luar negeri. “Terjadi peningkatan sebaran Covid-19 paska lebaran ini akibat mobilitas masyarakat yang cukup tinggi jelang dan paska lebaran, jadi setelah masa inkubasi sekarang baru bisa diketahui,” ungkap Joni.

Tugas dari pemerintah melalui Satgs Covid-19 adalah melakukn 3T yakni Testing, Tracing dan Treatment. Sedangkan tugas masyarakat adalah tetap mematuhi prokes dengan 5M yakni memaki masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi mobilitas dan menjauhi kerumunan. “Keduanya harus padu jadi harus komprehensif untuk mencegah Covid-19 ini,” kata Joni.

Ia juga menolak jika ada yang mengatakan lonjakan kasus Covid-19 di Jatim khususny di Bangkalan ini akibat pemerintah lalai atau kebobolan. Mengingat, pihaknya sudah berupaya melakukan antisipasi seperti membuat larangan mudik lebaran namun tetap saja masih ada yang melanggar.

“Siapa bilang kita kebobolan, hampir semua provinsi di Indonesia juga mengalami kenaikan. Seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan provinsi yang lain,” dalih Joni.

Rate transmission Jatim bulan lalu, kata Joni masih dibawah angka 1 tapi sekarang menjadi 1,2. Sedangkan kasus baru Covid-19 hingga 9 Juni tercatat sebanyak 2.145 orang. “Karena masa inkubasinya 2 pekan, maka kita prediksi dua pekan kedepan angka penularan bisa melonjak tajam, sehingga harus dilakukan antisipasi untuk memutus mata rantai sebaran,” imbuhnya.

Sementara itu wakil ketua Komisi E DPRD Jatim Hikmah Bafaqih berharap pemerintah bisa menggandeng tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk ikut menyadarkan masyarakat Bangkalan sebab mengubah perilaku yang sesuai dengan protokol kesehatan itu tidak instan.

“Perlu pendekatan dengan lokal wisdom serta menerjunkan sukarelawan supaya penangganan Covid-19 di Bangkalan berjalan dengan baik dan tidak menyebar ke daerah-daerah lain,” kata politikus asal FPKB DPRD Jatim.

Hingga saat ini masyarakat di Bangkalan, lanjut Hikmah masih banyak yang menolak saat ada petugas kesehatan melakukan tes maupun tracing. Bahkan ketika diketahui terpapar Covid-19 mereka lebih memilih isolasi mandiri di rumah daripada dirujuk ke tempat isolasi yang sudah disediakan pemerintah.

“Bahkan sampai aparat kepolisian setempat yang ikut membantu penanganan sampai mengiming-imingi dengan memberikan beras 5 kg agar masyarakat mau diswab. Menurut kami perlu dilakukan dengan pendekatan kearifan lokal dengan melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama. Kalau mereka yang ngomong tentu akan lebih mudah diturut masyarakat,” terangnya.

Selain Satgas Covid-19 Jatim, turut pula hadir dalam pertemuan itu Kadinkes Jatim, BPBD Jatim, Kadinkes Bangkalan dan kepala RS Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan. (pun)

Leave a reply