NasDem Dorong Restorasi UU Pendidikan Kedokteran Yang Berkeadilan dan Humanis

0
81

– Rawan Muncul Pungli, DPR RI Buka Pengaduan Uji Kompetensi Pendidikan Kedokteran

SabdaNews.com – Ketua Panja RUU Pendidikan Kedokteran DPR RI Willy Aditya mengatakan pihaknya membuka selebar-lebarnya pengaduan kepada masyarakat yang masih dikenakan biaya tinggi untuk bisa lulus dalam uji kompetensi menjadi seorang dokter.

“Ada pengaduan dari masyarakat kalau ingin lulus menjadi dokter dengan mengikuti uji kompetensi harus membayar Rp 75 juta tanpa tes, bahkan ada yang sampai Rp 350 juta. Ini sangat menyesakkan sekali disaat mahasiswa berjuang beberapa tahun untuk bisa menjadi dokter ternyata ketika kelulusan harus membayar puluhan juta untuk lulus. Ini yang sedang digodok di RUU Pendidikan Kedokteran nantinya agar tak terjadi lagi,” jelasnya saat di Surabaya, Selasa (8/6/2021).

Politkus asal partai Nasdem ini mengatakan dengan dasar itulah, pihaknya membuka pengaduan masyarakat jika masih ada ditemukan pungutan-pungutan dalam menentukan kelulusan mahasiswa dalam uji kompetensi kedokteran.” Silahkan lapor ke kami dan kami buka hotline untuk menerima pengaduan tersebut,” tegas Willy.

Dibeberkan oleh Willy, Fraksi NasDem DPR RI memiliki komitmen untuk terus mengawal disahkannya RUU pendidikan kedokteran tersebut dalam sebuah UU.
“Kami ingin saat Indonesia menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) seluruh dokter-dokter Indonesia memiliki kualitas dan kuantitas agar bisa bersaing dengan dokter-dokter asing yang masuk ke Indonesia. Tidak bisa dipungkiri lagi nanti ketika MEA berlaku pastinya dokter asing masuk bebas dan berpraktek di Indonesia,” jelas mantan jurnalis ini.

Diakui Willy Aditya, dalam rapat dengar pendapat dengan pihak pemerintah, negara hanya bisa membantu mahasiswa fakultas kedokteran untuk menempuh pendidikan sebesar Rp 1,8 juta per semester.

“Nilai tersebut sangat minim sekali, sehingga dengan adanya RUU pendidikan kedokteran tersebut akan dilakukan penataan mekanisme pendidikan kedokteran di Indonesia untuk melahirkan dokter-dokter yang berkualitas dan berintegritas,” pungkas wakil ketua Fraksi NasDem DPR RI ini.

– IDI Pusat Sambut Baik Restorasi Humanisme Pendidikan Kedokteran, Ingin Sejajar dengan Negara Tetangga

Masih di lokasi yang sama, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih menyambut baik restorasi Humanisme Pendidikan Kedokteran, agar bisa sejajaar dengan Negara Tetangga. Bahkan mengaku forum yang digelar DPW Partai NasDem Jatim bertajuk ‘Restorasi Humanisme Pendidikan Kedokteran’ sangat bermanfaat.

“Forum seperti ini sangat bermanfaat bagi kami untuk aspirasi dan masukan. Membuka ruang bagi kami dari profesi untuk menyampaikan masukan rencana revisi yang dibawa oleh Baleg. Dan kebetulan Pak Willy (Ketua Panja RUU Pendidikan Kedokteran, Willy Aditya, red) berasal dari NasDem,” kata Faqih.

Pihaknya pun melihat bahwa akses pendidikan dan rasa keadilan yakni dokter yang diproduksi itu harus terdistribusi dengan baik ke daerah-daerah yang membutuhkan dokter.

“Itu mulai dulu tidak selesai. Kita melihat kasus Covid-19 memang masih banyak PR menyelesaikan beberapa masalah. Tentang distribusi, kemudian akses pendidikan dan rasa keadilan. Ada kawan-kawan pinter tapi tidak punya akses sekolah itu harus diselesaikan,” pinta Faqih.

Ia membeberkan, selama ini faktor itulah yang sampai saat ini menjadi PR yang belum terselesaikan. “Rasa keadilan untuk mengakses pendidikan kedokteran itu harus diselesaikan. Jangan orang yang pinter-pinter, SDM yang baik karena alasan tidak ada duit, dia tidak bisa sekolah. Ironis itu bagi sebuah bangsa,” tegasnya.

Ada lagi masalah pembebanan biaya yang tinggi, lanjut dia, karena proses ujian yang tidak kunjung selesai juga harus diselesaikan. Sehingga kita harus berani menyusun strategi supaya ketertinggalan kita di teknologi pelayanan kedokteran dan inovasi yang minim kita harus segera berubah.

“Kalau tidak berubah, sampai kapan kita kalah terus dan tidak sejajar dengan pelayanan di tempat negara lain. Dengan negara tetangga saja kita kalah, itu harus dikejar. Nah, strategi itu harus dimulai dari hulunya. Yaitu pendidikan kedokteran,” pungkas Daeng Faqih. (tis)

Leave a reply