Naikkan Harga Subsidi Pupuk, Sense Of Crisis Pemerintah Patut Dipertanyakan

0
59

– Di tengah pandemi covid-19 dan bencana alam hidrologi masih jadi ancaman serius

SabdaNews.com – Keputusan pemerintah menaikkan harga pupuk bersubsidi di Indonesia pada awal tahun 2021 bersamaan dengan musim tanam dinilai kurang memiliki sense of crisis terhadap kaum petani. Terlebih pandemi Covid-19 masih mengancam dan bencana alam hidrologi bisa datang sewaktu-waktu.


Anggota Komisi B DPRD Jatim Dwi Hari Cahyono mengatakan bahwa tahun 2020 lalu merupakan masa yang berat bagi perekonomian Jatim pada khususnya dan Indonesia pada umumnya karena harus menghadapi pandemi Covid-19 selama 9 bulan. 


“Pertumubuhan ekonomi yang minus dan tentunya juga berdampak daya beli masyarakat juga menurun. Pemerintah kami nilai tak punya sense of crisis dengan menaikkan harga pupuk subsidi, karena sebagian warga kurang mampu itu dari kelompok petani,” kata Dwi saat dikonfirmasi Surabaya, Kamis (7/1/2021).


Menurut pria yang juga ketua Fraksi Keadilan Bintang Nurani (FKBN) DPRD Jatim, seharusnya pemerintah tak menaikkan harga pupuk subsidi karena hal itu akan membuat multiplayer efek terhadap sektor lain, khususnya pangan. 


”Daya beli akan semakin menurun dan tak ada jaminan harga yang memuaskan pasca panen bagi petani. Curah hujan yang tinggi berpotensi banjir dan mengancam gagal panen petani. Ini malah di tahun 2021 pemerintah malah bernafsu menaikkan harga pupuk subsidi,” sindir politisi asal Malang ini.


Mantan Dirut PD Jasa Yasa Malang ini menambahkan pihaknya berharap pemerintah mempertimbangkan kembali keputusan menaikkan harga pupuk bersubsidi agar daya beli petani meningkat. 


”Tentunya kalau ada kenaikan, pemerintah juga harus menjamin adanya ketersediaan pupuk bersubsidi tersebut,” tambah  Bendahara Himpunan Pengusaha Nahdliyyin (HPN) Malang Raya ini. 


Sekedar diketahui, berdasarkan surat Direktur Pemasaran PT Pupuk Indonesia (Persero) Nomor 0001/APJ/C31/ET/2021 tertanggal 1 Januari 2021 tentang Penyampaian Permentan Nomor 49 Tahun 2020 tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi sektor Pertanian tahun anggaran 2021, terdapat kenaikan HET beberapa jenis Pupuk Bersubsidi.


“HET untuk Urea dari Rp 1800/kg menjadi Rp 2250/kg atau ada kenaikan Rp.450/kg. Pupuk SP-36 dari Rp 2000/kg menjadi Rp 2400/kg atau naik Rp 400/kg. Pupuk ZA dari Rp 1400/kg menjadi Rp 1700/kg atau naik Rp 300/kg, dan Organik Granul dari Rp 500/kg menjadi Rp.800/kg atau naik Rp.300/kg,” terang Dwi.


Sedangkan pupuk NPK tidak naik tetap Rp.2300/kg. “Kenaikan HET 4 jenis pupuk bersubsidi itu cukup besar bagi petani. Kalau 1 sak @50 kg tentunya kenaikannya kisaran Rp.150 ribu hingga Rp.225 ribu/sak,” pungkas dalih politisi asal PKS Jatim.(pun)

Leave a reply