Komisi E DPRD Jatim Miris Lihat Gaji PPT UPT Dinsos Jatim

0
103

SabdaNews.com – Komisi E DPRD Jatim menemukan kondisi Unit Pelayanan Teknis (UPT) milik Dinas Sosial Jatim yang kondisinya kurang layak. Bahkan banyak permasalahan yang dijumpai seperti gedung perlu renovasi, jumlah karyawan tidak seimbang, hingga honor pegawai yang masih di bawah upah minimum kabupaten (UMK).

Di UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak (PPSAA) Sitobondo di Banyuwangi misalnya, Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Artono menyebut ada kekurangan ruang belajar.

Ia menilai kelas yang tersedia terlalu kecil untuk menampung jumlah penghuni sebanyak 60 anak. “Ini saya kira perlu diperbaiki,” kata politisi asal PKS saat dikonfirmasi, Jumat (23/10/2020).

Artono mengakui, dari sejumlah kunjungan ke UPT milik Dinsos Jatim, rata-rata permasalahan adalah infrastruktur. Banyak bangunan yang kurang layak dan perlu direhab. Bahkan beberapa diantaranya membahayakan penghuni.

“Memang masih banyak yang perlu diperbaiki. Kami sudah keliling rutin tiap bulan untuk kunjungi UPT milik dinsos, mulai Pandaan (Pasuruan) sampai Banyuwangi. Nah dari situasi yang kita lihat, nanti kami sampaikan apakah perlu ada penambahan untuk rehabilitasi,” bebernya.

Komisi E juga menyinggung soal gaji pegawai di UPT milik dinas sosial khususnya yang pegawai tidak tetap (PTT). Menurut Artono, banyak dari mereka yang honornya di bawah upah minimum kabupaten (UMK).

Masalah gaji ini juga disampaikan anggota Komisi E DPRD Jatim Zainiye. Politiku PPP itu mengakui perlunya peningkatan honor atau gaji. “Utamanya posisi kayak juru masak, tenaga konseling ya. Perlu ditingkatkan lagi,” harapnya.

Catatan Zainiye yang perlu perhatian yakni masalah jumlah pegawai. Dia menilai, perlu ada keseimbangan antara ratio pegawai yang menangani dengan penghuni. “Kalau pun ASN dibatasi dengan pola rekrutmen dan jatah kuota, paling tidak posisi PTT ini perlu menjadi perhatian serius,” tuturnya.

Sekretaris Dinsos Jatim Restu Novi Widiani mengakui, kondisi UPT PPSAA Sitobondo di Banyuwangi memang kurang. Di UPT yang menampung anak-anak perempuan ini sangat dibutuhkan ruang bimbingan dan bermain.

Namun, perlu dihitung lagi mana yang paling mendesak untuk diperbaiki dibanding dengan UPT lain. “Kami harus tetap berhitung, karena kita ada 30 UPT. Nanti kita akan adakan skala prioritas dulu,” pungkas Restu. (pun)

Leave a reply