Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Jatim Sudah Separoh Lebih DKI Jakarta

0
82

– Tiga Hari Berturut-turut Jatim Pecahkan Rekornas Penambahan Kasus Terkonfirmasi Positif Covid-19

SabdaNews.com – Selama tiga hari berturut-turut, Proinsi Jatim memimpin atau memecahkan rekor nasional keenam kalinya untuk penambahan kasus baru terkonfirmasi positif covid-19. Bahkan jumlah kasus positif covid-19 di Jatim kini menembus angka 3.568 kasus atau separoh lebih kasus sama yang terjadi di DKI Jakarta (6.515 kasus,red).

Sekedar mengingatkan, pada 21 Mei lalu penambahan kasus baru terkonfirmasi positif covid-19 di Jatim sebanyak 502 kasus. Kemudian pada 22 Mei bertambah sebanyak 153 kasus, dan hari ini Sabtu (23/5/2020) kembaii melonjak bertambah sebanyak 473 kasus baru positif covid-19.

“Hari ini kasus terkonfirmasi positif covid-19 bertambah sebanyak 473 kasus, sehingga akumulasinya menjadi 3.568 kasus positif covid-19 di seluruh Jatim,” kata ketua gugus kuratif Satgas Covid-19 Jatim, dr Joni Wahyuhadi saat dikonfirmasi Sabtu (23/5/2020) malam.

Penambahan terbesar, kata Joni berasal dari Kota Surabaya 310 ditambah 1 dari kapal barang, Sidoarjo 84, Kab Pasuruan 17, Jombang 7, Lamongan 7, Gresik 5, Kab Mojokerto 5, Kab Kediri 4, Sampang 4, Tulungagung 3, Bojonegoro 3, Lumajang 3, Kota Malang 3, Jember 2, Kota Pasuruan 2, Kab Malang 1, Bangkalan 1, Kota Kediri, 1, Kota Probolinggo 1, Kota Batu 1, Sumenep 1 dan Kota Mojokerto 1.

Sementara dari total 3.568 kasus yang terkonfirmasi positif di Jatim, lanjut Joni ada sebanyak 465 orang yang sudah sembuh, lalu 2. 806 orang masih dirawat dan sebanyak 285 orang yang meninggal dunia.

Ia juga bersyukur karena pasien positif yang sembuh hari ini bertambah 39 orang. Diantaranya, dari Surabaya 21 orang, Kab Kediri 1 orang, Kab Probolinggo 1 orang, Kab Malang 2 orang, Kota Malang 1 orang, Jombang 2 orang, Kota Probolinggo 2 orang, Pacitan 1 orang, Sampang 2 orang, Ngawi 3 orang, Kota Mojokerto 1 orang, Sumenep 1 orang, dan Trenggalek 1 orang.

“Namun kita juga berduka karena yang pasien yang meninggal dunia bertambah 12 orang yakni 4 dari Surabaya, 2 dari Gresik, 1 dari Kab Kediri, 1 dari Lamongan, 1 dari Kab Probolinggo, 1 dari Kota Probolinggo, 1 dari Kab Pasuruan, dan 1 dari Bojonegoro,” ungkap Dirut RSUD dr Soetomo Surabaya..

Selanjutnya untuk kasus PDP, hari ini bertambah sebanyak 62 kasus sehingga totalnya menjadi 5.561 kasus di seluruh Jatim. “Dari jumlah terebut sebanyak 2.523 orang masih diawasi, kemudian 2.496 orang sudah tidak diawasi dan 542 orang yang meninggal dunia,” kata dr Joni.

Sedangkan untuk kasus ODP bertambah sebanyak 219 kasus, sehingga akumulasinya menjadi 23.642 kasus di seluruh Jatim. “Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.161 orang masih dipantau, lalu 19.388 orang sudah tak dipantau dan 93 orang lainnya meninggal dunia,” ujarnya.

Selain karena kian massif dan agresifnya dilakukan rapid test di sejumlah daerah di Jatim khususnya di wilayah Surabaya Raya yang tengah melaksanakan PSBB tahap II, melonjaknya penambahan kasus baru yang terkonfirmasi positif covid-19 di Jatim juga diakibatkan masih banyaknya masyarakat yang tidak menjalankan protokol kesehatan. Seperti tidak menggunakan masker, tidak menjaga physical distancing maupun social distancing serta mencuci tangan dengan sabun.

“Jelang lebaran, tempat-tempat keramaian seperti di mall dan pasar sangat sulit dihindari sehingga bisa jadi pemicu terjadinya penularan. Kemudian transportasi udara seperti di bandara Juanda yang kita tahu angka penumpang ada sekitar 1.400-1.500 per hari bak pemberangkatan maupun kedatangan,” dalih Joni Wahyuhadi.

Melihat grafik yang terus meningkat penambahan kasus baru positif covid-19 di Surabaya Raya, lanjut Joni tidak menutup kemungkinan PSBB akan diperpanjang hingga tahap III. Alasannya, dari kajian epidemiologis FKM UNAIR Surabaya juga merekomendasikan untuk diperpanjang.

“PSBB tahap II di Surabaya Raya akan berakhir pada 25 Mei 2020. Jadi kalau diperpanjang 14 hari lagi tahap III akan berakhir pada 9 Juni 2020. Namun untuk kepastiannya kita menunggu saja keputusan dari Gubernur Jatim,” pungkas dr Joni Wahyuhadi. (tis)

Leave a reply