Dimensi Ruang dan Waktu, 1 Hari Akhirat Equivalent dengan 1000 Tahun Masa Bumi

0
25839

– Surat Al Ashr Bergenre Lampau Tapi Berplat form Universal Futuristic

SabdaNews.com – 1400 tahunan silam, Nabi Muhammad SAW membacakan Surat Al Ashr dihadapan publik.

وَٱلۡعَصۡرِ ۝ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ ۝ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ)“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.103.Al-Ashr: 1-3).

Adalah kebiasaan bangsa Arab di waktu sore hari, mereka sering duduk duduk tanpa manfaat dan tanpa ada aktifitas, tanpa mengingat akan adanya keberadaan Tuhan, tanpa berpikir adanya kehidupan akhirat.

Mereka hanya berleha-leha, bersantai santai, sambil mengobrol dan bergosip tentang urusan dunia, tentang kemegahan, kedudukan, kekayaan dan kemewahan hidup. Yang tak jarang mengakibatkan pertengkaran, muncul rasa iri dan permusuhan diantara mereka. Hingga tak menyadari waktu terus berjalan, tak menyadari hari memasuki rembang petang dan kemudian dengan cepat kegelapan malampun menyelimuti bumi.

Mereka tak puas dengan waktu. Merasa kurang, merasa obrolannya belum tuntas, mereka lama lama menyalahkan waktu.
Kemudian, ketika Nabi Muhammad SAW menghampiri mereka dan membacakan Surat Al-Ashr tersebut ke hadapan mereka, bukannya mereka sadar akan kekeliruannya justru mereka kesal dan mencemooh Nabi SAW, menganggap sebagai pengganggu saja.

Kini, sikap manusia modern saat ini sepertinya tak berbeda jauh dengan sikap sikap umat jahiliyyah 1400 tahunan lalu, hanya beda bentuk dan kondisi, yaitu larut oleh kerepotan hidup dan kesibukan urusan duniawi, melupakan pengabdian dan ibadah kepada-Nya.

Surat Al-Ashr sepertinya hanya dipandang/dimaknai secara lahiriyah saja oleh kebanyakan umat, yakni asal sekadar berbuat kebaikan, asal ibadah, asal sekadar mengingatkan. Setelah itu cukup terhenti dibatas itu saja.

Hari hari lain lalai lagi dan berbuat dosa lagi. Saling sengketa lagi, saling sikut sikutan lagi, saling korupsi lagi, saling iri dan dengki lagi, saling zalim menzalimi dan sebagainya.

Sahabat fillah, mari kita renungi lebih jauh hakekat Surat Al-Ashr ini. Sebagaimana dengan surat-surat dan ayat-ayat dalam Al-Qur’an lainnya, maka tidak hanya cukup di maknai secara harafiahnya saja melainkan sangat luas dan padat dengan berbagai makna dan hakekat.

Demikian juga dengan kedalaman surat AL-Ashr ini. Redaksi surat Al-Ashr ini ber-genre lampau tetapi berplat form universal futuristic. Artinya, telah terjadi dan pasti akan terjadi (menemui /menyaksikan keadaan itu sepanjang zaman hingga di hari masa depan nanti).

Sedangkan dari plat form (kerangka) universal futuristic maknanya bahwa ayat ayat dalam Al-Ashr ini berkaitan dengan dimensi ruang dan waktu atas alam kehidupan semesta (universal) yang berbeda tetapi bagi makhluk kehidupan ciptaan-Nya, bertahap akan memasuki (bertransformasi) ke arah sana (the future).

Itulah mengapa surat Al-Ashr ini tidak dimulai dengan ayat : “Alladzina amanu…” (kepada orang orang yang beriman…)”, tetapi dimulai dengan redaksi, “Wal ‘Ashri…” (demi masa). Yang maknanya adalah bahwa dimensi ruang dan waktu alam kehidupan semesta ini telah dalam genggaman-Nya, telah di hitung-Nya, telah ditetapkan-Nya dan seluruh makhluk pasti akan menemui serta mengalami kejadiannya dimasa depan nanti.

Sebab Allah telah mengetahui keadaan demikian, maka Dia mengingatkan kepada manusia manusia yang masih tersisa diakhir zaman ini agar tidak mengalami nasib naas seperti umat-umat terdahulu. Dan dalam memberi peringatan itu, Allah tidak langsung berkata-kata dengan manusia secara langsung sebab tidak mungkin benda saling berbicara dengan bayangan didalam cermin dan adalah manusia itu hanyalah merupakan “bayangan-Nya”.

Oleh karena itu Allah mengadakan perantara/media, yakni terakhir melalui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya yang terakhir untuk alam semesta. Dan ketika Nabi Muhammad SAW kini telah tiada, maka Allah masih memiliki Muhammad lain yakni : Al-Qur’an yang kemudian diestafetkan kepada para pengikut-pengikut Muhammad, para pembaca qalam-Nya, para penebar kebenaran kebenaran-Nya dan para alim ulama yang kesemuanya itu merupakan Muhammad Muhammad lain dan Wali yang di hadirkan oleh Allah. Maka menjadilah kita Muhammad Muhammad-Nya.

Jadi, janganlah menjadikan Muhammad itu hanya sebatas sosok, obyek pengkultusan dan bemper untuk segala argumentasi dengan serangkaian dalil manakala kita berdebat saling berebut benar. Jadi, jadikanlah Muhammad itu subyek di dalam jiwa, di dalam diri kita umat, yang katanya mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW.

Kemudian obyeknya adalah laku perbuatan yang bernilai Muhammad. Jangan kebalik, Muhammad hanya dijadikan obyek alasan untuk gontok gontokan mencari pembenaran. Itulah salah satu alasan mengapa sosok Nabi Muhammad SAW tidak bergambar, tidak divisualisasikan dengan lukisan ataupun foto seperti manusia manusia agung lainnya.

Sebab ternyata sudah menjadi kecenderungan nafs khayal manusia, yang selalu berlebihan dalam mengagungkan benda materi hingga akhirnya lama kelamaan men-Tuhankan benda/materi, termasuk menuhankan manusia seperti umat-umat yang lain. Tuhan mengetahui keadaan ini dan sejarah telah membuktikan kenyataannya.

Maka demikianlah, Allah ingin mengajarkan manusia, janganlah menyembah materi tetapi sembahlah Dia saja dengan memurnikan sesembahan, dengan meniadakan tandingan, dengan melenyapkan pikiran-pikiran khayal yang mengarah pada “keserupaan, kesetaraan” dan menyekutukan (Laisa Kamislihi Syai’uun).

Maka demikianlah Muhammad itu bukanlah sosok kultus individu melainkan Muhammad adalah piagam / nilai, Muhammad adalah cahaya, Muhammad adalah kemurnian jiwa diri insan-insan yang berderajat muslimin muslimat pengibar bendera kebenaran, yang terpercaya dalam amanat dan pengkhabaran dan yang menebar kebijaksanaan.

Nur-Muhammad

Sahabat budiman, Hari demi hari berganti mengiringi hidup dan kehidupan kita. Hidup ini bagai roda pedati, tak pernah lesu dan terhenti. Merangkak berjalan tertatih dan menyebar di muka bumi, beredar berkeliling bersama lintas edar mentari.

Dari sejak kita dibuaian hingga diatas keranda berjalan saat datang kematian. Senyum, tangis, suka, duka mewarnai hari hari kita. Dan saat hadir senyum dan suka ria mencumbui kita, maka kita ingin hidup 1000 tahun lamanya. Namun saat kita frustasi kehilangan asa, serasa kita ingin memecat nyawa saat ini juga.

Kadang kita juga merasa begitu lama hidup di dunia, sejak kita dilahirkan hingga saat ini atau sampai tua nanti. Dan kadang kita merasa bahwa dunia ini sudah ada sejak lama dan manusia sudah ada sejak zaman purba hingga masa modern kini dan merasa kehidupan ini masih akan berlangsung lama.

Sehingga sepertinya manusia masih merasa memiliki waktu yang lama untuk berbuat kejahatan terhadap lainnya. Dan sementara sebagian manusia merasa kesal dengan kejahatan yang dilakukan manusia lain tanpa bisa berbuat apa apa. Dan bagi sebagian orang tertentu, kadang jengkel dengan kesombongan dan keangkuhan manusia lainnya, berharap mengapa tak binasa saja, namun malah umurnya panjang dan kian merajalela.

Kadang hati ini rasanya sakit, pedih, kecewa (sakitnya itu di sini….). Tapi, tenang. Jangan khawatir dan janganlah kita merasa putus asa. Masih ada Yang Maha Adil, masih ada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Masih ada Yang Maha berhitung dan masih ada Yang Maha Pembalas, Ada Tuhan Rabb Semesta Alam, Sang Maha Raja Diraja, Sang Penguasa, yang telah bersumpah :

“Wal ‘ashri…….wal ‘ashri !” (demi masa…demi masa)

Yang akan mengadili setiap kejahatan dan kebaikan. Yang akan mengasihi dan menyayangi hamba-hamba-Nya yang berlaku kasih dan sayang. Yang akan memperhitungkan setiap nafas langkah dan perbuatan makhluknya. Dan yang akan membalaskan orang-orang yang telah membuat rasa sakit, pedih dan kecewa kita.

Oleh sebab itu ketahuilah rahasianya, mengapa Allah bersumpah demi masa ? Sebab sesungguhnya hidup dan umur manusia serta kehidupan panggung dunia ini sesungguhnya tak berlangsung lama, hanya sebentar saja, hanya dalam hitungan jam saja.

Mari kita singkap rahasia mengapa Allah bersumpah demi masa. Mari kita jabarkan teori relatifitas masa yang pernah dikemukakan oleh Albert Einstein, dan sesuai dengan surat Al-Ashr yang tersebut diatas.

Masa dunia dengan masa akhirat berbeda jauh akibat perbedaan dimensi ruang dan waktu. Hal ini telah diinformasikan oleh Allah dengan rumusan, salah satunya sebagai berikut :

1 hari akhirat setara dengan 1000 tahun waktu bumi

وَیَسۡتَعۡجِلُونَكَ بِٱلۡعَذَابِ وَلَن یُخۡلِفَ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥۚ وَإِنَّ یَوۡمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلۡفِ سَنَةࣲ مِّمَّا تَعُدُّونَ

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya SEHARI disisi Tuhanmu adalah seperti SERIBU TAHUN menurut perhitunganmu.” (QS.Al Hajj:47).

Dari ayat tersebut diatas, kita memperoleh suatu formula (teori relatifitas) yang dapat dianalogikan sebagai berikut :

Yaitu dikenal dengan formula 1:1000 (satu banding seribu), atau 1 hari akhirat = 1000 tahun waktu bumi .

Jika 1 hari = 24 jam, maka :
1 hari (24 Jam) akhirat = 12.000 bulan waktu bumi atau 1000 tahun.
½ hari (12 jam) akhirat = 6.000 bulan waktu bumi atau 500 tahun.
¼ hari (6 jam) akhirat = 3.000 bulan waktu bumi atau 250 tahun.
1/8 hari (3 jam) akhirat = 1.500 bulan waktu bumi atau 125 tahun.
1/16 hari (1.5 jam) akhirat = 750 bulan waktu bumi atau 62.5 tahun

Maka jika :
Menurut data sensus dunia, bahwa tingkat rata-rata harapan hidup manusia sekitar 62.5 – 70 tahun. Jika dikonversi dengan masa akhurat, maka :

62.5 (usia) X 12 bulan = 750 bulan atau 22.500 hari atau 540.000 jam,
= 540.000 : 22.500 = 24
= 24 : 16 = 1.5
Atau = 1/16 hari masa akherat.
(ternyata Al-Qur’an itu matematik loh).

Artinya, jika tingkat rata rata harapan hidup manusia sekitar 62.5 – 70 tahun, maka lamanya hidup manusia di dunia ini menurut waktu langit hanya dalam waktu 1,5 jam sampai dengan 1.7 jam saja !

Baik, sampai di sini cobalah renung dulu sejenak, jangan melanjutkan membaca. Kemudian cobalah buka lembar Al-Qur’an dan coba renungi kembali hakekat Surat Al-Ashr dalam-dalam, kemudian tengok surat QS. 23.Al-Mu’minuun:114.

قَـٰلَ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِیلࣰاۖ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

Maka artinya, hidup manusia di dunia ini oleh Allah, hanya diberi waktu cuma 1.5 jam saja. Ini baru pada perhitungan surat Al-Ashr, belum jika di konvert dengan teori masa pada dimensi ruang dan waktu menurut planet akherat yang lainnya, seperti dalam formula surat : QS.70.Al-Ma’aarij :4, yang kadar masanya lebih jauh lagi yakni 1 hari sama dengan 50.000 tahun.

تَعۡرُجُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَیۡهِ فِی یَوۡمࣲ كَانَ مِقۡدَارُهُۥ خَمۡسِینَ أَلۡفَ سَنَةࣲ[Surat Al-Ma’arij 4]

Maka, pantas tidak jika Allah menurunkan ayat tersebut? Maka patut tidak jika Nabi Muhammad SAW selalu mengingatkan kepada kita akan masalah waktu?

Pantesan kita di ingatkan dengan seruan :
“WAL ‘ASHRI….WAL ‘ASHRI…..”
(Demi waktu….demi waktu !)

Sebab ternyata hanya dengan 1.5 jam saja kehidupan abadi kita ditentukan, hendak di Surga atau Neraka. (QS 98:8 dan 41:28 ).

جَزَاۤؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّـٰتُ عَدۡنࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۤ أَبَدࣰاۖ رَّضِیَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُۚ ذَ ٰ⁠لِكَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّهُۥ

[Surat Al-Bayyinah 8]

ذَ ٰ⁠لِكَ جَزَاۤءُ أَعۡدَاۤءِ ٱللَّهِ ٱلنَّارُۖ لَهُمۡ فِیهَا دَارُ ٱلۡخُلۡدِ جَزَاۤءَۢ بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا یَجۡحَدُونَ

[Surat Fushilat 28]

Sebab ternyata hanya 1.5 jam saja cobaan, ujian hidup, tangis kepedihan, kesengsaraan dan kesulitan berlangsung.

Pantesan Allah selalu mewanti wanti kita untuk tetap dalam sabar. (QS 74:7, 52:48 , 39:10).

وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ

[Surat Al-Muddatstsir 7]

وَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعۡیُنِنَاۖ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ حِینَ تَقُومُ

[Surat Ath-Thur 48]
قُلۡ یَـٰعبَادِ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمۡۚ لِلَّذِینَ أَحۡسَنُوا۟ فِی هَـٰذِهِ ٱلدُّنۡیَا حَسَنَةࣱۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَ ٰ⁠سِعَةٌۗ إِنَّمَا یُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَیۡرِ حِسَابࣲ
[Surat Az-Zumar 10]

Ternyata hanya 1.5 jam saja kita disuruh menahan nafsu amarah, lawammah dan mengganti dengan pedoman-Nya (QS 12:53 , 33:38).

وَمَاۤ أُبَرِّئُ نَفۡسِیۤۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوۤءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۤۚ إِنَّ رَبِّی غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ

[Surat Yusuf 53]

مَّا كَانَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ مِنۡ حَرَجࣲ فِیمَا فَرَضَ ٱللَّهُ لَهُۥۖ سُنَّةَ ٱللَّهِ فِی ٱلَّذِینَ خَلَوۡا۟ مِن قَبۡلُۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ قَدَرࣰا مَّقۡدُورًا)

[Surat Al-Ahzab 38]

Ternyata hanya memerlukan waktu 1.5 jam saja untuk menjalani sebuah perjuangan yang teramat singkat dalam menghadapi kehidupan dan problematika. Dan Allah SWT akan mengganti dengan Ridho-Nya. (QS 9:72, 98:8, 4:114).

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِ جَنَّـٰتࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَا وَمَسَـٰكِنَ طَیِّبَةࣰ فِی جَنَّـٰتِ عَدۡنࣲۚ وَرِضۡوَ ٰ⁠نࣱ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ ذَ ٰ⁠لِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِیمُ

[Surat At-Taubah 72]

لَّا خَیۡرَ فِی كَثِیرࣲ مِّن نَّجۡوَىٰهُمۡ إِلَّا مَنۡ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوۡ مَعۡرُوفٍ أَوۡ إِصۡلَـٰحِۭ بَیۡنَ ٱلنَّاسِۚ وَمَن یَفۡعَلۡ ذَ ٰ⁠لِكَ ٱبۡتِغَاۤءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوۡفَ نُؤۡتِیهِ أَجۡرًا عَظِیمࣰا
[Surat An-Nisa’ 114]

Dan hanya 1.5 jam, perjuangan untuk mencari bekal perjalanan panjang menuju kemenangan nanti. (QS 59:18, 42:20, 3:148, 28:77).

مَن كَانَ یُرِیدُ حَرۡثَ ٱلۡـَٔاخِرَةِ نَزِدۡ لَهُۥ فِی حَرۡثِهِۦۖ وَمَن كَانَ یُرِیدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡیَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَا لَهُۥ فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ مِن نَّصِیبٍ
[Surat Asy-Syura 20]
فَـَٔاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ ثَوَابَ ٱلدُّنۡیَا وَحُسۡنَ ثَ وَٱللَّهُ یُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِینَ
[Surat Ali ‘Imran 148]
وَٱبۡتَغِ فِیمَاۤ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡـَٔاخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِیبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡیَاۖ وَأَحۡسِن كَمَاۤ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَیۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِی ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِینَ
[Surat Al-Qashash 77]

Maka sebagaimana hanya dalam waktu 1.5 jam saja kita disuruh untuk berbuat bakti, beribadah mengabdi kepada Tuhannya, maka hanya selama 1.5 jam sajalah manusia diberi kebebasan untuk bergelimang dalam perbuatan dosa dan kesesatan.

Maka, pantaslah Tuhan menyebut bahwa banyak manusia yang merugi karena itu. (QS.103.Al-Ashr:2).

إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ
[Surat Al-‘Ashr-2]

Kemudian, Tuhan menekankan lagi :

قَـٰلَ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِیلࣰاۖ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ
“Kamu tidak tinggal ( dibumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui” . (QS 23:114)

Dan manusia benar benar mengetahui dan membuktikan hal ini setelah matinya, setelah berbaring di liang lahat, setelah sanak familinya menaburkan kembang kenanga kemudian menangis tersedu di hadapan batu nisan yang bertuliskan :

Sahabat budiman, segeralah secepat mungkin menengok kembali peta perjalanan kita dalam menuju kepada-Nya. Mumpung masih diberi waktu, selagi masih dapat, selagi masih diberi kesempatan, Berbuatlah manfaat, tolong menolonglah dalam kebaikan.

Maka segeralah secepat mungkin tinggalkan kesombongan, sok-sok-an, keangkuhan, kekikiran, keangkara murkaan, kejahatan, kekafiran dan kesesatan. Sebelum onggokan daging terbenam dalam lumpur tanah, membusuk dalam kesendirian, dalam nestapa dan dalam kegelapan di bumi liang lahat. Bersama larva-larva yang berpesta- pora, bersama cacing cacing pengurai jasad.

Semoga menjadi renungan, Salam 1.5 jam saja. (tis/kelana8penjuru)

Leave a reply