Setahun Khofifah-Emil Pimpin Jatim Bidang Ekonomi Dapat Rapot Merah

0
214

– Hasil penilaian Partai Gerindra Jatim

SabdaNews.com – Dalam hitungan hari, genap setahun Provinsi Jawa Timur dipimpin oleh pasangan Gubernur Khofifah dan Wakil Gubernur Emil Elistianto Dardak. Sejumlah partai yang memiliki kursi di DPRD Jatim juga memiliki penilaian sendiri baik yang obyektif maupun subyektif.

Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad mengatakan bahwa dari sisi ekonomi Provinsi Jatim selama setahun terakhir cenderung stagnan bahkan menurun akibat kurang inovatif.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), kata pria yang menjabat wakil ketua DPRD Jatim mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan III tahun 2019 sebesar 5,32% (y-o-y). Angka ini terendah dalam 5 (lima) tahun terakhir secara y-o-y.

Bahkan dalam perhitungan q-to-q perekonomian Jawa Timur mangalami kontraksi 1,68%. “Makaya saya tak ragu menyebutkan bahwa mandegnya pertumbuhan ekonomi karena miskinnya inovasi yang dilakukan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur,” dalih Sadad.

Terlebih jika mengacu pada teori konservatif, pemicu pertumbuhan ekonomi adalah tingginya demand dari luar daerah. “Dari perspektif ini saya mendapati tak ada upaya konkret untuk mempertahankan surplus perdagangan antar provinsi,” ungkap politisi asal Pasuruan.

Selama ini perdagangan antar provinsi menjadi unggulan provinsi ujung timur Pulau Jawa. Provinsi Jawa Timur dari tahun ke tahun menjadi tulang-punggung perekonomian Indonesia bagian Timur.

Pembukaan kantor-kantor perwakilan dagang di beberapa provinsi di Indonesia bagian Timur selama bertahun-tahun telah memberikan sumbangan bagi surplus perdagangan antar provinsi.

“Namun jelang setahun kepemimpinan Khofifah-Emil, nampaknya misi dagang itu baru digenjot karena Pemprov mungkin menyadari penyebab pertumbuhan ekonomi stagnan,” jelas Anwar Sadad

Di sisi lain, rendahnya demand dapat pula disebabkan rendahnya supply. Mengingat, Jawa Timur selama ini menjadi buffer stock komoditas pangan nasional.

Beberapa komoditas pangan bahkan sangat mengandalkan Jawa Timur, misalnya produksi gula di Jawa Timur sepanjang tahun 2017 memberikan kontribusi 53,33% produksi gula nasional, lalu menurun menjadi 51,15% di tahun 2018, sesuai dengan Data Statistik Tebu Nasional.

Sedangkan pada tahun 2019 menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian diperkirakan anjlok menjadi sekitar 43,3% saja. “Tentu saja ini warning bagi perekonomian Jawa Timur,” tegasnya.

Demikian pula dengan produksi gabah, sepanjang tahun 2018 produksi gabah di Jawa Timur menyentuh 10.53 juta ton gabah kering giling, atau setara dengan 18,6% produksi nasional.

“Bukan bermaksud pesimis, angka ini sulit untuk dilampaui atau disamai pada tahun 2019. Kita belum tahu karena data mutakhir belum dirilis,” kelakar politisi murah senyum ini.

Begitu juga dengan produksi daging. Selama ini Jawa Timur telah melakukan berbagai cara mempertahankan populasi sapi ternak untuk mengamankan kebutuhan daging. Berbagai upaya dilakukan, misalnya denga program ‘sapi berlian’ (sapi beranak lima juta dalam lima tahun), dikonkretkan dengan pelarangan impor daging, pelarangan pemotongan sapi betina, dan lain-lain.

Namun data statistik menunjukkan bahwa dalam setahun terakhir populasi sapi di Jawa Timur makin menjauh dari angka 5 juta ekor.

“Harapan saya, memasuki tahun kedua kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Khofifah-Emil lebih fokus menjelentrehkan visi besar ke dalam unit operasional dengan target capaian yang terukur. Jawa Timur harus menjadi provinsi terunggul dibandingkan provinsi-provinsi lain,” pinta politisi Partai Gerindra. (tis)

Leave a reply