Kader PDI Perjuangan Surabaya Masih Teratas Hasil Survey ASTI Per Januari 2020

0
312

– Tapi Machfud Arifin Bisa Kalahkan Paslon PDI Perjuangan, Asal Punya Pasangan Yang Tepat

SabdaNews.com – Delapan bulan jelang pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2020, sejumlah lembaga survey mulai membuka hasil survey terkait tingkat elektabilitas dan akseptabilitas sejumlah bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang akan maju di Pilkada Serentak mendatang.

Salah satu lembaga survey yang merilis hasil surveynya adalah ASTI (Akurat Surve Terukur Indonesia). Lembaga yang digawangi Baihaki Sirajit ini melakukan survey di Kota Surabaya pada awal Januari 2020 melibatkan sebanyak 1000 responden sebagai sampling, menggunakan metode wawancara tatap muka door to door di 31 kecamatan yang ada di Kota Pahlawan, dengan tingkat Margin of Error sebesar 3 %.

Lebih jauh Manager Operasional ASTI itu menjelaskan bahwa politisi gaek asal PDI Perjuangan masih mendominasi tiga besar tingkat elektabilitas calon wali kota Surabaya. Berikutnya, baru ada nama politisi Partai Golkar Jatim, Gus Han (Zahrul Ashar), lalu disusul aktivis Fatayat NU Jatim, Ning Lia Istifhama yang prosentasenya beda tipis sekali.

“Ranking 5 besar bakal calon di Pilwali Kota Surabaya adalah Wishnu Sakti Buana (WSB) dengan elektablitas 27%, dibuntuti Armuji 25%, Puti Guntur Soekarno 23 %, Gus Han 20%, dan Ning Lia Istifhama sebesar 19%,” ujar Gus Baihaki sapaan akrab Baihaki Sirajit, saat dikonfirmasi Sabtu (1/2/2020).

Ia mengakui nama Machfud Arifin belum sempat terekam dalam survey, lantaran mantan Kapolda Jatim itu baru melejit komunikasi politiknya di tataran elit sehingga berhasil mendapatkan dukungan sejumlah parpol lebih awal daripada calon lain pada pertengahan hingga akhir Januari lalu.

“Satu-satunya calon yang saat ini sudah mengantongi rekom, memang Pak Machfud Arifin. Tapi dia belum menonjol di masyarakat baik tingkat popularitas maupun elektabilitasnya, sehingga perlu gerakan lagi untuk mendongkrak popularitas maupun elektabilitasnya,” terang Baihaki.

Seandainya Pilkada Surabaya 2020 dilakukan hari ini, otomatis calon dari PDI Perjuangan yang masih unggul. Tapi sayang, DPP PDI Perjuangan sendiri masih belum menentukan rekomendasi akan diberikan kepada siapa pada Pilkada Surabaya mendatang.

“Saya kira DPP PDIP masih menghitung secara matematis siapa yang layak bertarung dengan Machfud AArifin yang saat ini sudah resmi diusung koalisi besar meliputi PAN, Gerindra, PKB, PPP dan Golkar,” jelas pria asal Sampang Madura.

Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan PKS, NasDem dan PSI yang belum menetukan pilihan, apakah mereka mau gabung dengan koalisi besar mengusung MA, atau justru gabung dengan PDI Perjuangan. “Bahkan bisa jadi bikin poros baru yang bisa jadi kuda mitan dari kontestan yang lain. Sepertinya, masih cair, ” tambah Baihaki.

Ia juga meyakini, jika kontestasi Pilwali Kota Surabaya 2020 hanya diikuti dua pasangan calon yakni paslon yang diusung PDI Perjuangan dan yang diusung koalisi besar, maka persaingan menjadi sangat seru karena sama-sama berpeluang menang atau bisa saling mengalahkan.

“Tim koalisi Machfud Arifin (MA) harus hati-hati dalam menentukan pasangan Cawawali. Paling tidak harus punya basis massa yang jelas dan merepresentasikan kaum milenial sehingga bisa mengangkat popularitas dan elektabilitas MA kalau ingin bersaing atau mengalahkan paslon dari PDI Perjuangan,” jelas Baihaki.

Soal apakah pasangan Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin sebaiknya dari salah satu parpol pengusung atau non partisan? Kembali Baihaki menyarankan sebaiknya non partisan untuk meminimalisir konflik interest dengan parpol koalisi lainnya.

“Sebaiknya memang non partisan, seperti Pak Machfud Arifin. Tapi yang penting dia punya komitmen kuat mengakomodir dan bersinergi dengan parpol koalisi pengusungnya,” bebernya.

Paslon yang akan diusung PDI Perjuangan Surabaya, lanjut Baihaki berpeluang besar menang jika Pilwali Kota Surabaya minimal diikuti tiga kontestan (paslon). Sebaliknya, jika hanya dua paslon, maka paslon PDI Perjuangan harus bisa menyatukan faksi yang ada di tumbuh partai berlambang kepala Banteng.

“PDI Perjuangan kalau salah pilih dalam menentukan rekom paslon yang diusung, bisa jadi mereka akan gagal mempertahankan Surabaya sebagai basis suara PDI Perjuangan yang sudah bertahan dua dekade sejak era Wali Kota Bambang DH,” pungkas Manager Operasional ASTI. (pun)

Leave a reply