Regenerasi Seni Tabuhan Angklung Caruk Banyuwangi

0
156

– Sekolah Alam Kampoeng Batara Papring Kalipura Ingin Bikin Kompetsisi

BANYUWANGI.SabdaNews.com – Tabuhan Angklung bagi masyarakat Banyuwangi adalah satu kesatuan karakter, sehingga gerak dan dinamika hidup orang Banyuwangi (Baca: Using) bisa dilihat pada proses penguasaan tabuhan angklung dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya dalam kompetisi angklung caruk.

Selama ini proses regenerasi dan transformasi nilai yang terkandung dalam proses angklung caruk tersebut, hanya melalui pengamatan dari mulai anak-anak, kemudian meniru dan mempraktekannya setelah dewasa. Belum ada proses yang berjalan secara terkonsep dan terstruktur, bagaimana menguasai alat tabuhan itu dan memainkannya secara utuh. Kemudian kelak mempraktekannya dalam, sebuah kompetisi Angklung Caruk sebenarnya.

“Saya menyambut baik upaya dari “Sanggar Seni Jaya Karyo”, Sawahan Banyuwangi dengan Komunitas Anak-anak Sekolah Alam Kampoeng Batara Papring Kalipura ini. Bagi Kelompok Seni professional, inilah model regenerasi yang betul. Anak-anak tidak hanya diberi kesempatan mengamati dan menirukan, tetapi juga diberi ilmu praktek langsung dari masing-masing personil sanggar yang mengusai masing-masing gamelan,” kata Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), dr. Taufiq Hidayat saat melihat langsung di Papringan, Kalipuran. Banyuwangi Minggu (19/1/2020).

Bagi ini anak-anak, lanjut Taufiq kegiatan ini merupakan kesempatan emas untuk mendapatkan ilmu dari ahlinya. Apalagi pada proses “Ginau Bareng Tabuhan Angklung”, setiap anak akan dibimbing satu seniornya pada unit gamelan yang dikuasai.

Ketua DKB yang juga mengusai dan lancar dalam memainkan Angklung ini berharap ke depan, Kelompok Angklung Profesional di Banyuwangi bisa melakukan proses yang sama di daerah masing-masing. Kalau bisa juga mencari kelompok anak-anak potensial dan ingin belajar angklung.

“Ini sebagai wujud tanggungjawab bersama masyarakat, dalam mewariskan nilai seni kepada anak-anak. Tidak mungkin hal-hal demikian kita bebankan ke pemeritah, karena pemerintah tentu sangat terbatas dalam beberapa hal, ” katanya.

Namun pihaknya tetap berharap kepada pemerintah dalam mendukung program ini, misalnya kelak secara rutin dilakukan kompetisi tingkat ana-anak. “Tidak atas nama sekolah, melainkan atas nama kelompok anak atau kampung”, kata Dokter Taufiq yang juga Kepala RSUD Genteng, Banyuwangi ini.

Banyak Pendidikan karakter pada proses pembelajaran tabuhan angklung ini, sangat cocok ditularkan kepada anak-anak. Misalnya, seorang anak yang ingin belajar Tabuhan Angklung harus belajar sungguh-sungguh, serta menghafalkan sejumlah gendhing yang akan diiringi dalam tabuhan tersebut.

Kemudian nilai sportivitas, itu juga ditanamkan sejak dini. Seperti dalam proses caruk kelak, kalau memang tidak bisa menguasai suatu gendhing, harus jujur mengakuinya. Tidak ada ruang untuk mempertahankan kebohongan.

Dalam proses Angklung Caruk, sebenarnya tidak ada juri yang menilai penampilan masing-masing kelompok. Namun masyarakat penontonlah sebagai juri yang jujur dan fair, karena mereka rata-rata mengusai tabuhan serta hafal dengan gendhing-gendhing daerah yang diiringi tabuhan angklung.

“Ini kan nilai yang bagus dan harus dikusai anak-anak, yaitu apabila mau menang dalam kompetisi kehidupan sebenarnya, maka harus belajar sungguh-sungguh serta jujur”, pungkas suami dari dokter Andriyani dan bapak dari 4 anak ini.

Bagi anak-anak Kampoeng Batara Papringan sendiri, program acara “Ginau Bareng Tabuhan Banyuwangi” ini merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu. Selama ini mereka sedikit banyak ada yang bisa memainkan alat musik angklung, namun mereka hanya sebatas belajar secara otodidak dan meniru apa yang ia lihat.

“Tentu berbeda sekali, apabila mereka mendapatkan ilmu dan praktek langsung dari senior mereka yang mahir dalam bidang tabuhan itu, yaitu langsung dari Sanggar Seni Joyo Karyo Banyuwangi.” demikian ungkap Widie Nurmahmudy, owner Kampoeng Batara menimpalinya.

Senada, Nuno Soetedjo pembina Sanggar Seni Joyo Karyo, mengaku sangat senang bisa berbagi ilmu kami yang sedikit ini. Anak-anak semuanya tampak sangat bergembira menyambut ini semua, karena telah mendapatkan ruang saling belajar dan bermain tehnik tabuh dasar secara benar.

“Proses begini ini kami maksudkan agar kelak ilmu tabuhan dan kemampuannya bisa berkembang kearah yang benar”, harap anak dari almarhum Sutejo Hadi, seniman Angklung kawakan di Banyuwangi tahun 1970-an ini.

Dalam proses belajar dan penguasaan seni tabuhan angklung, lanjut Nuno memang ada karakter khas masyarakat Banyuwangi yang sangat melekat pada kesenian angklung. Mereka tidak emosional dan sangat fair, dalam menerima kenyataan pada proses angklung caruk.

Anak-anak Kampoeng Batara Papring Kalipuro yang sangat hetrogen, terlihat sangat antusias dalam menyambut proses belajar tersebut. “Inilah yang saya harapkan, semoga program ini akan terus bisa berkelanjutan, sehingga mampu memberikan pondasi kuat dalam mempertahankan seni budaya adiluhung Banyuwangi”, pungkasnya. (tis)

Leave a reply