Inilah Hasil Bahtsul Masail Waqi’iyah Muskerwil PWNU Jatim

0
3667

– Keputusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur Tentang Keabsahan Shalat Jumat di Instansi Pemerintahan dan Semisalnya

SabdaNews.com – Sebagai pengantar,
pelaksanaan shalat Jumat di lingkungan instansi pemerintahan, perusahaan, sekolahan, pusat layanan publik, pusat perbelanjaan dan semisalnya telah berjalan cukup lama.

Pun demikian, masih ada kalangan yang menolak keabsahannya dan merespon dengan prinsip kehati-hatian atas dasar pertimbangan hukum fikih tertentu. Sikap demikian memang dapat diterima, namun bukan berarti menutup pintu bagi pendapat lain yang melegalkannya.

Di sisi lain, dalam konteks sekarang fenomena ujaran kebencian (hate speech), intoleransi dan radikalisme yang seringkali menyalahgunakan mimbar-mimbar keagamaan, termasuk mimbar khotbah Jumat, menjadi keprihatinan tersendiri bagi terjaminnya keharmonisan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di tengah fakta pluralitas yang ada.

Sebab itu, diperlukan kejelasan hukum atas keabsahan shalat Jumat di instansi pemerintahan dan semisalnya, sehingga dapat menjadi rujukan yang kokoh bagi para dai untuk mensyiarkan Islam Ahlusssunnah wal Jama’ah yang damai dan toleran di tempat-tempat tersebut, demi kokohnya ketahanan sosial masyarakat dan tegaknya Negara Kesatuan Repubik Indonesia, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, seiring spirit al-Qur’an:

اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (النحل: 125).
“Ajaklah manusia pada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik. Sungguh Tuhanmu adalah Dzat Yang Maha Mengetahui terhadap orang yang sesat dari jalan-Nya dan Maha Mengetahui terhadap orang-orang yang mendapatkat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

B. Keabsahan Shalat Jumat di Instansi Pemerintahan dan Semisalnya Perspektif PWNU Jawa Timur

Di antara pendapat yang membolehkan pelaksanaan shalat Jumat di lingkungan instansi pemerintahan, perusahaan, sekolahan dan semisalnya adalah Keputusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur di PP Ar-Rosyid Dander Bojonegoro pada Tahun 2011 tentang Pengembangan ‘Illat Ta’addud al-Jumu’ah (menyelenggarakan shalat Jumat lebih dari satu di suatu daerah) memutuskan, bahwa faktor efisiensi waktu, keamanan, keselamatan ketika menyeberang jalan raya, minimnya jam istirahat kerja, larangan shalat Jumat di luar dari pihak perusahaan, dan semisalnya, dapat digolongkan sebagai faktor yang memperbolehkan ta’addud al-jumu’ah, karena termasuk hajat yang sampai pada taraf masyaqqah la tuhtamal ‘adatan atau kesulitan yang secara umum tidak dapat dikesampingkan.

C. Kemusykilan Seputar Larangan Ta’addud al-Jumu’ah dan beberapa syaratnya
berkaitan keabsahan shalat jumat di instansi pemerintahan dan semisalnya sering muncul pertanyaan, apakah hal itu tidak termasuk dalam larangan ta’addud al-jumu’ah?

Apakah memenuhi syarat 40 orang jamaah yang berstatus muqim (tinggal/menginap di sekitar tempat shalat Jumat) dan juga berstatus mustauthin (berdomisili tetap di sekitar tempat shalat Jumat)? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat ditemukan solusinya.

1. Ta’addud al-Jumu’ah
Dalam kalangan ulama Syafi’iyah, larangan ta’addud al-jumu’ah merupakan persolaan yang diperselisihkan. Pendapat mainstream melarangnya kecuali bila terdapat tiga kebutuhan mendesak, yaitu (1) sempitnya tempat Jumatan yang tidak mampu menampung jamaah, (2) terlalu jauhnya tempat Jumatan dari rumah jamaah, atau sulit berkumpulnya para jamaah dalam satu tempat karena konflik yang terjadi di tengah-tengah mereka. Namun demikian ada ulama yang mempunyai pendapat berbeda.

Menurut Syekh Ismail az-Zain, larangan ta’addud al-jumu’ah selain karena sulit berkumpulnya para jamaah tidak punya dalil nash sharih atau yang setingkat dengannya. Bahkan ia berpendapat, maksud utama pensyariatan shalat Jumat adalah menampakkan syiar agama Islam pada hari itu, mengumandangkan dakwah dan nasehat bagi kaum muslimin di mimbar-mimbar Jumat.

Karenanya, selama masing-masing tempat memenuhi batas minimal 40 orang, maka shalat Jumat boleh dilaksanakan di tempat tersebut. Dengan demikian, menurutnya syiar agama Islam semakin besar gaungnya dalam satu waktu dan dapat dilakukan secara serempak di berbagai tempat. Dalam kitab Qurrah al-‘Ain halaman 89-90 memfatwakan:

حُكْمُ تَعَدُّدُ الْجُمُعَةِ فِي بَلْدَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ قَرْيَةٍ وَاحِدَةٍ. مَسْأَلَةٌ: مَا قَوْلُكُمْ فِي تَعَدُّدِ الْجُمُعَةِ فِي بَلْدَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ قَرْيَةٍ وَاحِدَةٍ مَعَ تَحَقُّقِ الْعَدَدِ فِي كُلِّ مَسْجِدٍ مِنْ مَسَاجِدِهَا. فَهَلْ تَصِحُّ جُمْعَةُ الْجَمِيعِ أَوْ فِيهِ تَفْصِيلٌ فِيمَا يَظْهَرْ لَكُمْ؟ اَلْجَوَابُ: أَمَّا مَسْأَلَةُ تَعَدُّدِ الْجُمُعَةِ فَالظَّاهِرُ جَوَازُ ذَلِكَ مُطْلَقًا بِشَرْطِ اَنْ لاَ يَنْقُصَ عَدَدُ كَلٍّ عَنْ أَرْبَعِيْنَ رَجُلاً. فَإنْ نَقَصَ عَنْ ذَلِكَ انْضَمُّوْا إِلَى أَقْرَبِ جُمُعَةٍ إِلَيْهِمْ. اِذْ لَمْ يُنْقَلْ عَنِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ جَمَّعَ بِأَقَلَّ عَنْ ذَلِكَ. وَكَذَلِكَ السَّلَفُ الصَّالِحُ مِنْ بَعْدِهِ. وَالْقَوْلُ بِعَدَمِ الْجَوَازِ إِلاَّ عِنْدَ تَعَذَّرَ اْلإجْتِمَاعِ فِى مَكَانٍ وَاحِدٍ لَيْسَ عَلَيْهِ دَلِيْلٌ صَرِيْحٌ وَلاَ مَا يَقْرُبُ مِنَ الصَّرِيْحِ لاَ نَصًّا وَلاَ شِبْهَهُ. بَلْ إِنَّ سِرَّ مَقْصُوْدِ الشَّارِعِ هُوَ فِيْ إِظْهَارِ الشِّعَارِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ وَأَنْ تُرْفَعَ اْلأَصْوَاتُ عَلَى الْمَنَابِرِ بِالدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ وَالنُّصْحِ لِلْمُسْلِمِيْنَ. فَكُلَّمَا كَانَتِ اْلمَنَابِرُ أَكْثَرَ كَانَتِ الشِّعَارَاتُ أَظْهَرَ، وَتَبَلَّوَتْ عِزَّةُ دِيْنِ اْلإِسْلاَمِ فِي آنٍ وَاحِدٍ فِى أَمَاكِنِ مُتَعَدِّدَةٍ إِذَا كَانَ كُلُّ مَسْجِدٍ عَامِرًا بِأَرْبَعِيْنَ فَأَكْثَرَ. هَذَا هُوَ الظَّاهِرُ لِيْ وَالله وَلِيُّ التَّوْفِيْقِ.
“Hukum ta’addud al-Jumu’ah di satu daerah atau satu desa. Pertanyaan: “Apa pendapat Anda dalam hal ta’addud al-Jumu’ah di satu daerah atau satu desa disertai terpenuhinya syarat jumlah minimal jamaah pada setiap masjid dari berbagai masjidnya, apakah semua shalat Jumatnya sah atau terdapat perincian hukum menurut Anda?

” Jawab: “Berkaitan masalah ta’addud al-Jumu’ah maka pendapat yang kuat adalah diperbolehkan secara mutlak dengan syarat jumlah jamaah masing-masing masjid tidak kurang dari 40 laki-laki. Maka apabila jumlah jamaah kurang darinya mereka harus bergabung pada shalat Jumat yang terdekat. Karena tidak dinukil dari Nabi Saw bahwa beliau pernah melaksanakan shalat Jumat dengan jamaah yang kurang darinya. Demikian pula as-Salaf as-Shalih setelahnya.

Pendapat yang tidak membolehkan ta’addud al-Jumu’ah kecuali ketika terdapat kesulitan berkumpulnya jamaah di satu tempat tidak mempunyai dalil yang jelas maupun yang mendekati jelas, baik berupa nash atau yang menyerupainya. Bahkan rahasia maksud as-Syari’ (Nabi Pembawa Syariat) dari shalat Jumat adalah menampakkan syiar agama pada hari tersebut, mimbar-mimbar terpenuhi suara lantang yang mengajak kepada Allah dan menasehati kaum muslimin. Maka semakin banyak mimbar semakin banyak pula syiar yang tampak, keluhuran agama Islam tersyiar dalam satu waktu di banyak tempat ketika satu masjid diramaikan oleh 40 orang lebih. Ini pendapat yang kuat menurutku. Wallahu waliyyut taufiq.”

Sementara menurut Imam Abdul Wahhab as-Sya’rani dalam kitab al-Mizan al-Kubra juz II halaman 183-184, ‘illat atau alasan larangan ta’addud al-Jumu’ah sebenarnya—yaitu menjadi ajang konsolidasi penentangan terhadap pemerintahan yang sah sudah tidak ada, sehingga kembali kepada hukum asal yang memperbolehkannya.

Ia menjelaskan:

وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ تَعَدُّدُ الْجُمْعَةِ فِي بَلَدٍ إِلَّا إِذَا كَثُرُوا وَعَسُرَ اجْتِمَاعُهُمْ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ … وَوَجْهُ الْأَوَّلِ أَنَّ إِمَامَةَ الْجُمْعَةِ مِنْ مَنْصَبِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ، فَكَانَ الصَّحَابَةُ لَا يُصَلُّونَ الْجُمُعَةَ إِلَّا خَلْفَهُ. وَتَبَعَهُمُ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ عَلَى ذَلِكَ. فَكَانَ كُلُّ مَنْ جَمَعَ بِقَوْمٍ فِي مَسْجِدٍ آخَرَ خِلَافَ الْمَسْجِدِ الَّذِي فِيهِ الْإِمَامُ الْأَعْظَمُ يُلَوِّثُ النَّاسُ بِهِ وَيَقُولُونَ: أَنَّ فُلَانًا يُنَازِعُ فِي الْإِمَامَةِ. فَكَانَ يَتَوَلَّدُ مِنْ ذَلِكَ فِتَنٌ كَثِيرَةٌ، فَسَدَّ الْأَئِمَّةُ هَذَا الْبَابَ إِلَّا لِعُذْرٍ يَرْضَى بِهِ الْإِمَامُ الْأَعْظَمُ، كَضَيْقِ مَسْجِدِهِ عَنِ جَمِيعِ أَهْلِ الْبَلَدِ. فَهَذَا سَبَبُ قَوْلِ الْأَئِمَّةِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ تَعَدُّدُ الْجُمُعَةِ فِي الْبَلَدِ الْوَاحِدِ إِلَّا إِذَا عَسُرَ اجْتِمَاعُهُمْ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ. فَبُطْلَانُ الْجُمُعَةِ الثَّانِيَةِ لَيْسَ لِذَاتِ الصَّلَاةِ وَإِنَّمَا ذَلِكَ لِخَوْفِ الْفِتْنَةِ … فَلَمَّا ذَهَبَ هَذَا الْمَعْنَى الَّذِي هُوَ خَوْفُ الْفِتْنَةِ مِنْ تَعَدُّدِ الْجُمُعَةِ جَازَ التَّعَدُّدُ عَلَى الْأَصْلِ فِي إِقَامَةِ الْجَمَاعَةِ. وَلَعَلَّ ذَلِكَ مُرَادُ دَاوُدُ بِقَوْلِهِ: أَنَّ الْجُمُعَةَ كَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ. وَيُؤَيِّدُهُ عَمَلُ النَّاسِ بِالتَّعَدُّدِ فِي سَائِرِ الْأَمْصَارِ مِنْ غَيْرِ مُبَالَغَةٍ فِي التَّفْتِيشِ عَنْ سَبَبِ ذَلِكَ. وَلَعَلَّهُ مُرَادُ الشَّارِعِ. وَلَوْ كَانَ التَّعَدُّدُ مَنْهِيًّا عَنْهُ لَا يَجُوزُ فِعْلُهُ بِحَالٍ لِوُرُودِ ذَلِكَ وَلَوْ فِي حَدِيثٍ وَاحِدٍ. فَلِهَذَا نَفَذَتْ هِمَّةُ الشَّارِعِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي التَّسْهِيلِ عَلَى أُمَّتِهِ فِي جَوَازِ التَّعَدُّدُ فِي سَائِرِ الْأَمْصَارِ حَيْثُ كَانَ أَسْهَلَ عَلَيْهِمْ مِنَ الْجَمْعِ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ. فَافْهَمْ.
“Di antara yang diperselisihkan ulama adalah pendapat Imam Empat bahwa tidak boleh ta’addud al-Jumu’ah dalam satu daerah kecuali ketika penduduknya banyak dan sulit berkumpul dalam satu tempat … Alasan pendapat pertama adalah bahwa imam shalat Jumat termasuk kewenangan al-Imam al-A’zham (kepala tertinggi pemerintahan), maka para sahabat tidak pernah melaksanakan shalat Jumat kecuali di belakangnya. Al-Khulafa’ ar-Rasyidun pun mengikuti mereka dalam praktek tersebut. Sebab itu, setiap orang yang mengimami suatu kaum dalam pelaksanaan shalat Jumat di masjid lain selain masjid yang digunakan al-Imam al-A’zham pasti mendapat perhatian yang besar dari masyarakat dan mereka berkata: “Dia melawan pemerintahan yang sah”. Dari sinilah kemudian muncul berbagai fitnah dan para ulama membatasi kebolehan boleh ta’addud al-Jumu’ah kecuali karena uzur yang diperbolehkan oleh al-Imam al-A’zham. Inilah sebab pendapat para ulama yang melarang boleh ta’addud al-Jumu’ah dalam satu daerah kecuali ketika mereka sulit berkumpul dalam satu tempat. Maka batalnya shalat Jumat yang kedua bukan karena dzatiyah shalatnya, akan tetapi karena kekhawatiran terjadinya fitnah … Karenanya ketika alasan kekhawatiran terjadinya fitnah dari ta’addud al-Jumu’ah ini hilang, maka hukumnya menjadi boleh berdasarkan hukum asal pendirian shalat jamaah. Mungkin ini yang dikehendaki dengan statemen Imam Dawud yang menyatakan: “Sungguh shalat Jumat sebagaimana shalat-shalat lainnya.” Hal ini diperkuat dengan tradisi umat Islam yang mempraktekkan ta’addud al-Jumu’ah di berbagai kota tanpa terlalu meneliti sebab-sebabnya. Mungkin ini yang dikehendaki oleh Nabi pembawa syariat. Andaikan ta’addud al-Jumu’ah dilarang dan tidak diperbolehkan sama sekali, niscaya ada hadits yang menjelaskannya, meskipun hanya satu. Sebab itu, himmah (semangat) Nabi Saw pembawa syariat telah berlangsung dalam memberi kemudahan bagi umatnya dalam kebolehan ta’addud al-Jumu’ah di berbagai kota di satu tempat yang paling mudah bagi mereka untuk berkumpul. Pahamilah.”

2. Syarat Minimal 40 Jamaah

Syarat minimal 40 jamaah bagi keabsahan shalat Jumat juga merupakan permasalahan khilafiyah. Imam as-Syafi’i sendiri mempunyai 4 pendapat dalam hal ini. Yaitu pendapat mu’tamad yang merupakan qaul jadid yang menyaratkan jumlah minimal jamaah adalah 40 orang; dan 3 pendapat dalam qaul qadim, yaitu 3, 4 dan 12 orang yang salah satunya menjadi Imam. Beberapa pendapat qaul qadim ini dapat diamalkan sesuai dukungan ulama Syafiiyah terhadapnya, seperti al-Muzani, Abu Bakr ibn al-Mundzir, as-Suyuthi, Salim al-Khudhari, Muhammad Nawawi al-Bantani dan selainnya. Dalam Suluk al-Jadah fi Bayan al-Jumu’ah halaman 22, Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan:

(فَأَقُولُ: اَلْحَاصِلُ مِمَّا تَقَدَّمَ) أَيْ مِنْ تِلْكَ الْأَجْوِبَةِ: (أَنَّ لِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي الْعَدَدِ الَّذِي تَنْعَقِدُ بِهِ الْجُمُعَةُ أَرْبَعَةُ أَقْوَالٍ. قَوْلٌ مُعْتَمَدٌ وَهُوَ الْجَدِيدُ، وَهُوَ كَوْنُهُمْ أَرْبَعِينَ بِالشُّرُوطِ الْمَذْكُورَةُ) أَيْ فِي كُتُبِ الشَّافِعِيَّةِ، (وَثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ فِي اْلَمْذهَبِ الْقَدِيمِ ضَعِيفَةٌ. أَحَدُهَا: أَرْبَعَةٌ أَحَدُهُمُ الْإِمَامُ)، وَهَذَا مُوَافِقٌ لِأَبِي حَنِيفَةَ وَالثَّوْرِيِّ وَاللَّيْثِ. (وَالثَّانِي: ثَلَاثَةٌ أَحَدُهُمُ الْإِمَامُ)، وَهَذَا مُوَافِقٌ لِأَبِي يُوسُفَ وَمُحَمَّدٍ وَالْأَوْزَعِيُّ وَأَبِي ثُورٍ. (وَالثَّالِثُ: اثْنَا عَشَرَ أَحَدُهُمُ الْإِمَامُ) وَهَذَا مُوَافِقٌ لِرَبِيعَةَ وَالزُّهْرِيِّ وَالْأَوْزَعِيِّ وَمُحَمَّدٍ … (إِذَا عُلِمَ ذَلِكَ) أَيِ الْمَذْكُورُ مِنِ انْعِقَادُ الْجُمُعَةِ بِأَحَدِ هَذِهِ الْأَقْوَالِ الْأَرْبَعَةِ، (فَعَلَى الْعَاقِلِ الطَّالِبِ مَا عِنْدَ اللهِ تَعَالَى) مِنْ ثَوَابِهِ وَرِضَاهُ (أَنْ لَا يَتْرُكَ الْجُمُعَةِ) بِالْكُلِّيَّةِ (مَا تَأَتَّى) أَيْ أَمْكَنَ (فِعْلُهَا عَلَى وَاحِدٍ مِنَ الْأَقْوَالِ) أَيِ الْأَرْبَعَةِ. فَمَا مَصْدَرِيَّةٌ ظَرْفِيَّةٌ، أَيْ مُدَّةَ سُهُولَةِ فِعْلُهَا عَلَى ذَلِكَ.

“Aku-Syekh Salim al-Khudhari-menyatakan: ‘Kesimpulan dari berbagai jawaban tersebut adalah, bahwa Imam as-Syafi’i rahimahullahu ta’ala mempunyai 4 pendapat berkaitan dengan syarat jumlah minimal jamaah Jumat. Yaitu satu pendapat mu’tamad yang merupakan qaul jadi yang membatasi minimal 40 orang dengan syarat-syarat yang dijelaskan dalam kitab-kitab Syafi’iyah, dan tiga pendapat dalam qaul qadimnya yang lemah. Pertama, 4 orang yang salah satunya menjadi Imam. Ini sesuai dengan pendapat Abu Hanifah, at-Tsaur dan al-Laits. Kedua, 3 orang yang salah satunya menjadi Imam. Ini sesuai dengan pendapat Abu Yusuf, Muhammad dan Abu Tsur. Ketiga, 12 orang yang salah satunya menjadi Imam. Ini sesuai dengan pendapat Rabi’ah, az-Zuhri, al-Auza’i dan Muhammad. … Setelah diketahui keabsahan shalat Jumat berdasarkan salah satu dari 4 pendapat Imam as-Syafi’i ini, yaitu qaul jadid yang mensyaratkan 40 orang, dan tiga qaul qadim: 3, 4 atau 12 orang yang salah satunya jadi Imam, maka bagi orang berakal yang mencari pahala dan ridha di sisi Allah Ta’ala hendaknya tidak secara total meninggalkan shalat Jumat yang mampu dilakukan berdasarkan salah satu dari 4 pendapat tersebut. Huruf ma dalam kalimat ma taatta adalah ma mashdariyah dharfiyah, artinya tidak secara total meninggalkan shalat Jumat di waktu mampu melakukannya sesuai salah satu pendapat tersebut.’”

Sementara itu Imam as-Suyuthi dalam Dhau’ as-Syum’ah fi ‘Adad al-Jum’ah yang terhimpun dalam al-Hawi li al-Fatawi juz I halaman 71 menjelaskan:

وَلَمْ تَدُلَّ عَلَى اشْتِرَاطِ ذَلِكَ الْعَدَدِ بِعَيْنِهِ فِي حُضُورِهَا لِتَنْعَقِدَ. بَلْ أَيُّ جَمْعٍ أَقَامُوهَا صَحَّتْ بِهِمْ، وَأَقَلُّ الْجَمْعِ ثَلَاثَةٌ غَيْرُ الْإِمَامِ، فَتَنْعَقِدُ بِأَرْبَعَةٍ أَحَدُهُمُ الْإِمَامُ. هَذَا مَا أَدَانِي الْاِجْتِهَادُ إِلَى تَرْجِيحِهِ. وَقَدْ رَجَّحَ هَذَا الْقَوْلَ الْمُزَنِيُّ كَمَا نَقَلَهُ عَنْهُ الْأَذْرَعِيُّ فِي الْقُوتِ. وَكَفَى بِهِ سَلَفًا فِي تَرْجِيحِهِ، فَإِنَّهُ مِنْ كُبَارِ الآخِذِينَ عَنِ الْإِمَامِ الشَّافِعِي وَمِنْ كُبَارِ رُوَّاةِ كُتُبِهِ الْجَدِيدَةِ. وَقَدْ أَدَاهُ اجْتِهَادُهُ إِلَى تَرْجِيحِ الْقَوْلِ الْقَدِيمِ. وَرَجَّحَهُ أَيْضًا مِنْ أَصْحَابِنَا أَبُو بَكْرِ بْنِ الْمُنْذِرِ فِي الْأَشْرَافِ وَنَقَلَهُ عَنْهُ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ.
“Berbagai hadits dan atsar tidak menunjukkan disyaratkannya jamaah yang menghadiri shalat Jumat pada jumlah tertentu agar memenuhi keabsahannya. Bahkan sekelompok orang yang melaksanakannya maka shalat Jumat dapat sah dengan kehadiran mereka, dan batas minimalnya adalah tiga (3) orang selain imamnya, maka shalat Jumat dapat sah dengan dilakukan empat (4) orang yang salah satunya menjadi imam. Ijtihad telah mengantarkanku untuk mengunggulkan salah satu qaul qadim Imam as-Syafi’i ini. Al-Muzani juga telah mengunggulkan pendapat ini sebagaimana dinukil oleh al-Adzra’i dalam kitab al-Qut. Cukuplah al-Muzani untuk diikuti sebagai ulama salaf yang mengunggulkan pendapat tersebut. Ia termasuk ulama besar yang mengambil ilmu fikih langsung dari Imam as-Syafi’i dan termasuk ulama besar yang meriwayatkan kitab-kitab baru dari Imam as-Syafi’i, dan ijtihadnya telah mengantarkannya untuk mengunggulkan qaul qadim (pendapat lama) Imam as-Syafii tersebut. Di antara ulama Syafi’iyah yang juga mengunggulkannya adalah Abu Bakr bin al-Mundzir dalam kitab al-Asyraf dan an-Nawawi pun menukilnya dalam Syarh al-Muhaddzab.”

Namun demikian, shalat Jumat yang tidak memenuhi syarat minimal 40 jamaah, disunnahkan untuk disusul dengan i’adah shalat fardhu dhuhur setelahnya sebagai langkah kehati-hatian, sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani:

(وَلَكِنْ إِذَا لَمْ تُعْلَمِ الْجُمُعَةُ أَنَّهَا مُتَوَفِّرَةُ الشُّرُوطِ عَلَى الْقَوْلِ الْأَوَّلِ) أَيْ مِنَ الْأَقْوَالِ الْأَرْبَعَةِ (وَهُوَ الْقَوْلُ الْجَدِيدُ، فَيُسَنُّ لَهُ إِعَادَةُ الظُّهْرِ بَعْدَهَا) أَيِ الْجُمْعَةِ (احْتِيَاطًا) فِرَارًا مِنْ خِلَافِ مَنْ مَنَعَهَا بِدُونِ أَرْبَعِينَ.
“Namun demikian, ketiak shalat Jumatnya diketahui tidak memenuhi syarat sesuai pendapat pertama dari 4 pendapat tersebut yaitu qaul jadid, disunnahkan bagi pelakunya untuk menyusulnya dengan melakukan shalat i’adah fardhu dhuhur setelahnya, sebagai langkah kehati-hatian karena menghindari perselisihan pendapat dari ulama yang melarang shalat Jumat tanpa terpenuhinya syarat minimal 40 jamaah.”

3. Syarat Muqim-Mustauthin

Kebanyakan ulama Syafi’iyah mensyaratkan jamaah shalat Jumat harus berstatus muqim-mustauthin. Muqim artinya tinggal atau niat tinggal di sekitar tempat shalat Jumat minimal 4 hari 4 malam, sedangkan mustauthin berarti berdomisili tetap di sekitar situ. Namun ada pula ulama yang hanya mensyaratkan muqim atau niat muqim, seperti as-Subki dan ulama lainnya. Ali bin Ahmad Bashabrain dalam kitab Itsmid al-‘Ainain halaman 183-184 menjelaskan pendapat:

قَالَ الْإِمَامُ السُّبْكِيُّ: لَمْ يَقُمْ عِنْدِيْ دَلِيْلٌ عَلَى عَدَمِ انْعِقَادِ الْجُمْعَةِ بِالْمُقِيْمِ غَيْرِ الْمُسْتَوْطِنِ.
“Imam as-Subki berkata: ‘Menurutku tidak ada dalil yang menyatakan shalat Jumat tidak sah dengan jamaah orang mukim yang tidak berdomisili tetap di tempat Jumatan.”

Sementara Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ juz IV halaman 503 menerangkan, bahwa dalam lingkup mazhab Syafi’i terdapat sejumlah ulama yang menilai sah shalat Jumat yang dilakukan oleh setiap orang muqim yang tidak mendapat rukhshah (karena bepergian). Demikian pula ada sekelompok ulama lain yang berpendapat atas keabsahan shalat Jumat yang dilakukan oleh orang yang hanya berniat muqim di sekitar tempat Jumat. Ia menyatakan:

(السَّادِسُ) مَنْ تَلْزَمُهُ وَتَصِحُّ مِنْهُ وَفِي انْعِقَادِهَا بِهِ خِلَافٌ. وَهُوَ الْمُقِيْمُ غَيْرُ الْمُسْتَوْطِنِ. فَفِيْهِ الْوَجْهَانِ الْمَذْكُوْرَانِ فِي الْكِتَابِ، (أَصَحُّهُمَا) لَا تَنْعَقِدُ بِهِ. ثُمَّ أَطْلَقَ جَمَاعَةٌ الْوَجْهَيْنِ فِيْ كُلِّ مُقِيْمٍ لَا يَتَرَخَّصُ. وَصَرَّحَ جَمَاعَةٌ بِأَنَّ الْوَجْهَيْنِ جَارِيَانِ فِي الْمُسَافِرِ الَّذِيْ نَوَى إِقَامَةَ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ، وَهُوَ ظَاهِرُ كَلَامِ الْمُصَنِّفِ وَغَيْرِهِ. قَالَ الرَّافِعِيُّ هُمَا جَارِيَانِ فِيْمَنْ نَوَى إِقَامَةً يَخْرُجُ بِهَا عَنْ كَوْنِهِ مُسَافِرًا قَصِيْرَةً كَانَتْ أَوْ طَوِيْلَةً. وَشَذَّ الْبَغَوِيُّ فَقَالَ: الْوَجْهَانِ فِيْمَنْ طَالَ مَقَامُهُ وَفِيْ عَزْمِهِ الرُّجُوْعُ إِلَى وَطَنِهِ كَالْمُتَفَقِّهِ وَالتَّاجِرِ، قَالَ: فَإِنْ نَوَى إِقَامَةَ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ يَعْنِيْ وَنَحْوِهَا مِنَ الْإِقَامَةِ الْقَلِيْلَةِ لَمْ تَنْعَقِدْ بِهِ وَجْهًا وَاحِدًا. وَالْمَشْهُوْرُ طَرْدُ الْخِلَافِ فِي الْجَمِيْعِ.
“Macam kriteria jamaah shalat Jumat yang keenam adalah orang yang wajib dan sah mendirikan shalat Jumat, namun terkait apakah kehadirannya dapat memenuhi keabsahan shalat Jumat diperselisihkah ulama, yaitu orang muqim yang tidak mustauthin. Dalam hal ini ada dua pendapat yang disebutkan dalam kitab al-Muhaddzab. Pendapat al-Asshah menyatakan kehadirannya tidak dapat memenuhi keabsahan shalat Jumat. Kemudian ada segolongan ulama yang memutlakkan dua pendapat tersebut bagi setiap orang muqim yang tidak diperbolehkan mengambil rukhshah, dan segolongan ulama lain jelas-jelas menyatakan bahwa dua pendapat tersebut berlaku bagi musafir yang berniat tinggal/menginap 4 hari (4 malam). Inilah maksud dari lahiriah pernyataan as-Syairazi dan ulama lainnya. Ar-Rafi’i berkata: ‘Kedua pendapat tersebut berlaku bagi orang yang berniat tinggal/menginap di situ yang dengannya ia keluar dari status musafir, baik tinggal/menginapnya sebentar atau lama.’ Al-Baghawi menyimpang, ia berkata: ‘Dua pendapat tersebut hanya berlaku bagi orang yang tinggal/menginapnya lama dan masih punya tekat untuk kembali ke daerah asal domisilinya, seperti pelajar dan pedagang. Ia berkata: “Maka bila ia niat tinggal/menginap selama 4 hari (4 malam), maksudnya dan jangka waktu tinggal yang sebentar semisalnya, maka hanya ada satu pendapat, yaitu ia tidak dapat memenuhi keabsahan shalat Jumat.’ Namun demikian pendapat yang masyhur memberlakukan dua pendapat di atas pada seluruh orang yang berniat muqim (baik sebentar atau lama selama memenuhi batas minimal 4 hari 4 malam).”

4. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa shalat Jumat di lingkungan instansi pemerintahan, perusahaan, sekolahan, pusat layanan publik, pusat perbelanjaan semisalnya hukumnya sah secara syar’i selama memenuhi ketentuan minimal 3 orang jamaah laki-laki yang tinggal di sekitar tempat pelaksananaan shalat Jumat, baik berdomisili di situ secara tetap atau tidak. Artinya, bila ketentuan tersebut tidak terpenuhi, maka harus mengikutsertakan 3 jamaah Jumat dari warga setempat.

D. Rekomendasi

1. Kepada para dai di lingkungan internal umat Islam agar selalu mengedepankan dakwah yang penuh kerahmatan, kedamaian dan toleran, serta menghindarkan diri dari penyalahgunaan mimbar-mimbar keagamaan untuk menebarkan ujaran kebencian (hate speech), intoleransi dan radikalisme yang justru jauh dari nilai-nilai agama dan prinsip-prinsip kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Kepada PWNU Jawa Timur agar:

a. membangun komunikasi terhadap pimpinan instansi pemerintahan, perusahaan, sekolahan dan semisalnya agar menjaga fungsi masjid di lingkungannya sebagaimana kegunaan semestinya, dan tidak membiarkan penyalahgunaannya untuk menebar ujaran kebencian (hate speech), intoleransi dan radikalisme.

b. menginstruksikan lembaga dan badan otonom di lingkungan PWNU Jawa Timur, PCNU, MWC NU, dan Ranting NU Se Jawa Timur, serta berbagai lembaga dan badan otonomnya, untuk aktif mendakwahkan Islam Ahlusssunnah wal Jama’ah yang damai dan toleran di masjid-masjid instansi pemerintahan, perusahaan, sekolahan dan semisalnya, demi kokohnya ketahanan sosial masyarakat dan tegaknya Negara Kesatuan Repubik Indonesia.

c. membuat pedoman praktis tuntunan shalat jumat di instansi pemerintahan dan semisalnya sesuai konteks kekinian.

3. Kepada Pemerintah agar benar-benar menjaga fungsi masjid di instansi pemerintahan, perusahaan, sekolahan dan semisalnya sebagaimana kegunaan semestinya, dan menindak tegas oknum-oknum yang justru menyalahgunakannya untuk menebarkan ujaran kebencian (hate speech), intoleransi dan radikalisme, sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

4. Kepada para dai, PWNU Jawa Timur dan Pemerintah agar menyosialisasikan keputusan bahtsul masail ini seluas-luasnya. (pun)

Diputuskan di : Probolinggo
Pada tanggal : 03 Rabiuts Tsani 1441 H/30 November 2019 M

Bahtsul Masail Waqi’iyah Musyawarah Kerja Wilayah I Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur

Pimpinan Sidang

KH. Shofiyulloh (Ketua)

Dr. KH. M. Robith Fuadi, Lc. (Sekretaris)

Perumus:

1. KH. Shofiyulloh
2. KH. Dr. KH. M. Robith Fuadi, Lc.
3. KH. Syihabuddin Sholeh, S.Ag.
4. KH. MB Firjhaun Barlaman
5. KH. Syafrijal
6. K. Saiful Anwar
7. K. Ali Romzi
8. K. Ahmad Muntaha AM, S.Pd. 9. K. M. Tohari Muslim
10. K. Ahmad Fauzi Hamzah Syam
11. KH. M. Adibussholeh Anwar
12. K. Anang Darunnajah
13. K. M. Syamsuddin, M.Ag.
14. K. Sibaweh Hadzazzaman
15. K. M. Lukmanul Hakim, S.Pd.I.

Leave a reply