Emil Dardak Dukung Bahasa Indonesia-Melayu Sebagai Bahasa Ilmiah International

0
62

– Penggunaan Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar Dapat Meminimalisir Hoax

SabdaNews.com – Wakill Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak menyambut delegasi dari 31 Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta se Asia serta 154 Guru Besar yang menjadi peserta Musyawarah International dan Seminar Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) IV di Surabaya.

Kegiatan yang dikemas dalam gala diner ini dilaksanakan di gedung negara Grahadi Surabaya, pada Selasa (5/11/2019) malam berlangsung penuh keakraban dan kekeluargaan.

“Ini sebagai bentuk penghargaan pemerintah Provinsi Jatim terhadap event-event berskala nasional atau internasional yang digelar di Jatim. Dan mudah-mudahan tentunya mereka bisa meninggalkan kesan yang baik untuk mempromosikan Jatim dan juga membangun sinergi yang lebih kuat ke depannya,” ujar Emil Elistianto Dardak.

Mantan Bupati Trenggalek itu mendukung penuh upaya dari para Guru Besar yang ingin mendeklarasikan dan memperjuangkan penggunaan bahasa Indonesia-Melayu sebagai bahasa ilmiah internasional agar bahasa Indonesia semakin luas digunakan oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

“Secara kultur Indonesia dan Malaysia itu memiliki banyak kesamaan, tentu ini akan membanggakan bagi kedua negara yang serumpun,” kata suami Arui Bachsin ini.

Di sisi lain, pihaknya juga mendukung penggunaan bahasa Indonesia yang baik dalam keseharian baik dalam acara resmi maupun informal. Pasalnya dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik paling tidak bisa meminimalisir timbulnya hoax.

Terlebih bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa yang mampu mengekpresikan kritik dengan cara yang sangat baik atau santun, namun tidak menghilangkan makna di dalamnya. “Kalau itu dikuasai dengan baik Insya Allah bisa membuat suasana di masyarakat menjadi lebih adem dan bisa menghindari friksi-friksi yang tidak perlu terjadi,” dalih Emil.

Ia juga berharap para tokoh agama, tokoh masyarakat dan pejabat publik bisa menjadi tauladan dalam membiasakan diri menggunakan bahasa pakem daripada bahasa prokem dalam keseharian maupun dalam media sosial.

“Salah satu penyebab maraknya hoax itu bisa karena penggunaan bahasa-bahasa yang kurang baku dan cenderung menimbulkan interpretasi yang lebih vulgar sehingga berpotensi menciptakan friksi, mendorong adanya clikbait dan lain sebagainya,” kata Emil.

Sebelum mengakhiri sambutan, Wagub Jatim juga meminta maaf karena Ibu Gubernur Jatim tidak bisa ikut menemani, lantaran harus meninjau lokasi dan para korban bangunan SD roboh di Kota Pasuruan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa seorang guru dan seorang siswa.

“Ini bentuk penghormatan dari kami kepada profesi sebagai academicion dan tentunya walaupun kami menyampaikan ada perubahan zaman, kami berharap bahwa keberadaan guru besar akan senantiasa menjadi penuntun kita menuju masyarakat yang semakin bisa mengaktualisasikan dan membangun peradapan kedepannya,” pungkas Emil.

Diantara guru besar yang hadir adalah Prof Drs Koentjoro MBSe P.hd selaku Dewan Pertimbangan DGBI, Prof Dr Nuhhasan MKes rektor Unesa Surabaya, serta Prof Dr Setya Yuwana selaku ketua panitia Musyawarah International dan Seminar Forum DGBI ke 4 di Surabaya. (ud)

Leave a reply