Zawawi Imron ; Jadilah Orang Yang Bisa Merasa, Bukan Orang Yang Merasa Bisa

0
69

– Dubur ayam yang mengeluarkan telur itu lebih mulia dari mulut intelektual yang hanya menjanjikan telur

SabdaNews.com – Rapat paripurna istimewa dalam rangka Hari Jadi ke 74 Provinsi Jawa Timur di gedung DPRD Jawa Timur Jalan Indrapura Surabaya, Sabtu (12/10/2019) siang, berlangsung menarik. Pasalnya, usai Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan sambutan, ada tausyiah khusus yang disampaikan oleh budayawan asal Madura, Zawawi Imron.

Menurut penyair dengan julukan Clurit Emas sebagai rakyat Jawa Timur dia tidak dan belum mengatakan bahwa Jawa Timur yang terbaik. Tetapi kalau tidak ada Jawa Timur, tidaklah lengkap Indonesia.

Jika mengkaji dan mengaji sejarah, lanjut Zawawi sumbangan Jawa Timur di awal kemerdekaan Republik Indonesia sudah besar sekali karena hari pahlawan, hari perjuangan, hari kejujuran dan pengorbanan tanggal 10 November 1945 terjadi di Surabaya Jawa Timur.

“Itu artinya Jawa Timur itu banyak menyumbangkan pahlawan kepada Republik Indonesia. Itulah pentingnya kita belajar sejarah, mengkaji sejarah dan kalau kita selalu mengkaji sejarah, Insyaallah kalau kita tersesat masih di jalan yang benar. Dan itu masih lebih baik daripada kita merasa benar di jalan yang sesat,” tegasnya.

Pada tahun 1960, Indonesia pernah kedatangan orang alim Prof Dr Mahmod Shaltud Rektor Universitas Al Azhar Mesir. Beliau takjub dengan negeri Indonesia hingga mengatakan Indonesia adalah potongan surga yang diturunkan Allah di bumi.

Barulah 7 tahun kemudian ada penyanyi Indonesia yang membuat lagu dengan syair, orang bilang tanah kita, tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. “Catatannya yang berkaitan dengan budaya Jawa Timur yang berpatok pada dadio wong sing iso rumonga, ojo dadi wong sing rumongso iso,” kata Zawawi.

Orang yang bisa merasa itu kaitannya adalah dengan orang merasa tersesat walaupun di jalan yang benar. Sedangkan orang yang merasa bisa ialah orang yang merasa benar tapi di jalan yang sesat.

“Alhamdulillah manusia-manusia seperti ini tidak banyak yang lahir di Jawa Timur karena kita mempunyai Mpu-Mpu sejarah zaman lalu yang mewariskan nilai-nilai yang sampai sekarang nilai-nilai itu masih relevan untuk dipakai,” tegasnya.

Oleh karena itu, ketika kita berbicara Indonesia yang indah yang gunungnya biru berselendang awan, tanah air yang indah. Kalau ingin tetap subur makmur dan indah, itu harus diurus oleh hati yang bersih dan indah serta budi pekerti yang indah.

“Kalau tanah airnya saja yang indah sementara yang mengurus itu orang yang tidak berhati indah, maka bisa dirusak tanah air ini. Bahkan bisa digadaikan negeri ini. Inilah pentingnya kita punya hati an budi pekerti yang indah,” pinta Zawawi Imron.

Indonesia bersyukur punya ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Kalau ini (Pancasila) benar-benar tidak hanya sekedar menjadi kata benda tapi benar-benar menjadi kata kerja, nilai-nilai itu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, hati kita, jiwa kita menjadi satu dengan rakyat Indonesia,” jelasnya.

Sehingga ketika pemimpin berbicara dengan rakyat, yang tertusuk pada hatimu wahai rakyat, berdarah pada hatiku. Melelahkan air mataku, air mata untuk Indonesia. “Ini yang disebut air mata nasionalisme, air mata kecintaan kepada tanah air dan bangsa,” tegas pria yang sudah memasuki usia senja ini.

Kecintaan kepada tanah itu, lanjut Zawawi membuat dia menulis puisi berjudul Cinta Tanah Air hingga dinilai menjadi puisi terbaik Asia Tenggara di Thailand pada tahun 2001. Isinya adalah tentang kesadaran cinta tanah air sebagian dari iman.

Untuk memahami puisi tersebut Zawawi mengaku merenung selama 3 tahun. Kenapa kita harus cinta kepada tanah air? karena kita semua minum air Indonesia menjadi darah kita, kita makan beras dan buah-buahan menjadi daging, kita menghirup udara Indonesia hingga Indonesia menjadi nafas kita, dan kita bersujud diatas bumi Indonesia berarti bumi Indonesia adalah sajadah kita.

Bahkan bila saatnya kita mati, kita semua akan tidur dipelukan bumi Indonesia dan hancur membusuk bersama harumnya bumi Indonesia. Makanya tidak ada alasan untuk tidak cinta kepada bangsa dan tanah air.

“Ucapan seperti itu bisa mungkin kepada orang yang tidak cinta tanah air dianggap sampah. Karena itu kita perlu instropeksi mengoreksi sampai sejauhmana kita mencintai tanah air dan bangsa Indonesia,” harapnya.

Dari sinilah sebenarnya diharapkan untuk kita semua tokoh-tokoh yang ada di Jawa Timur ini punya tugas Mulia sebagaimana yang disampaikan oleh ketua DPRD maupun Gubernur Jatim yaitu tugas mengharumkan Jawa Timur secara subtansi

Jadi mengharumkan Jawa Timur itu bukan dengan kata-kata, tapi dalam hati karena keharuman hati Insyaallah akan memancar keluar bahwa Jawa Timur adalah inspirasi untuk mencintai Indonesia karena sejarah 10 November menjadi contoh pengorbanan arek-arek Suroboyo terjun ke medan laga walaupun hanya dengan bambu runcing tanpa takut dengan maut karena yang besar ya Allah Subhanahu Wa Ta’ala

“Paham yang seperti itu berawal dari Resolusi Jihad bahwa mengangkat senjata melawan penjajah wajib hukumnya dan siapa yang mati dalam perang kemerdekaan, sahid di jalan Allah,” ungkap Zawawi Imron.

Menurutnya, tanggung jawab kita sebagai pemimpin-pemimpin rakyat adalah pemihakan kepada rakyat yang mampu membaca hati rakyat dan kemampuan membaca hati rakyat itu diikuti dengan tindakan-tindakan nyata.

Kemudian bagaimana memenuhi janji-janji kepada rakyat, Zawawi menyitir sebuah puisinya berjudul telur. “Dubur ayam yang mengeluarkan telur itu lebih mulia dari mulut intelektual yang hanya menjanjikan telur”.

Di sinilah sebenarnya dibutuhkan tenaga, vitalitas, sebagaimana filosofi orang Madura, Abental Ombak Tak Sapu Angin, kalau layar sudah kukembangkan kemudi sudah kupegang, biarkan perahu akan tenggelam pantang surut kembali.

“Saya kira semangat kita sama yaitu semangat mengharumkan Jawa Timur dan membahagiakan Jawa Timur dan kita yang berada di atas dan yang ada di pelosok-pelosok desa tersenyum bersama kita,” jelasnya.

Seperti yang diucapkan oleh filosofi Jawa wong cilik melu gemuyu karena wakil-wakilnya di pemerintahan Jawa Timur berusaha seoptimal dan semaksimal mungkin untuk membahagiakan seluruh rakyat Jawa Timur.

Ia juga mengingatkan sebagai sesama putra Ibu Pertiwi jangan suka bertengkar tapi justru harus hormat menghormati dan saling tolong menolong, gotong royong tanda kemanusiaan kita. Hanya binatang yang mau diadu domba, tapi dombanya sekarang sudah ada di ladang dan yang berkelahi justru manusianya.

“Kita yang namanya intelektual masih mau diadu domba karena itu mari kita bersikap kritis sebelum ditujukan kepada orang lain ditujukan kepada diri sendiri. Apakah kita ini yang merasa benar di jalan yang sesat atau orang yang merasa tersesat di jalan yang benar, alangkah indahnya,” pungkas Zawawi.

Di akhir tausyiah, Zawawi juga menggambarkan kehidupan suami istri yang baik, yaitu tak cukup suami hanya mengatakan i love you kepada istrinya. Tapi dia akan mengatakan istriku, tahu bedanya kamu dengan Garuda? “Kalau Garuda cukup di dadaku tapi kamulah yang dalam hatiku,” pungkas Zawawi Imron disambut tepuk tangan dari seluruh undangan yang memenuhi ruang paripurna DPRD Jatim. (pun)

Leave a reply