Kapak Wirosableng dan Lantunan Asmaul Husna Iringi Demo Mahasiswa di DPRD Jatim

0
363

SabdaNews.com – Aksi puluhan ribu mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Jawa Timur di depan kantor DPRD Jatim jalan Indrapura Surabaya, Kamis (26/9/2019) berlangsung dramatik. Pasalnya, dalam aksi yang berlangsung sekitar 6 jam itu diwarnai dengan berbagai aksi yang cukup mencekam hingga aksi menggelikan.

Aksi yang cukup mencekam itu dipicu karena antar elemen mahasiswa yang turun ke jalan koordinasinya kurang baik sehingga antar mahasiswa saat berebut tempat di depan gedung DPRD Jatim sempat diwarnai aksi saling dorong hingga kejar-kejaran dan lembar botol minuman ke sesama kelompok mahasiswa.

Yang menarik, dalam aksi saling lempar antar elemen mahasiswa dengan sasaran aparat kepolisian bertugas menjaga keamanan jalannya aksi, aparat kepolisian berhasil mengamankan dua orang yang diduga menjadi provokator karena sempat melemparkan kapak wirosableng dan batu ke aparat kepolisian.

Namun beruntung dalam insiden beberapa menit itu tak ada yang terluka baik dari kelompok mahasiswa maupun aparat kepolisian berkat kesigapan aparat melakukan antisipasi agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama.

Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan membenarkan bahwa pihaknya berhasil mengamankan dua orang yang diduga menjadi provokator aksi hingga membuat keributan antara mahasiswa dan aparat kepolisian.

“Alhamdulillah aksi berjalan dengan lancar walaupun sempat ada aksi lempar-lempar tapi kami berhasil mengamankan 2 orang sehingga kondisi bisa kondusif kembali,” kata Irjen Pol Luki Hermawan.

“Saya selaku Kapolda Jatim terima kasih, sekali lagi terima kasih yang sebesar-besarnya karena aksi turun ke jalan yang berlangsung selama tiga hari ini sangat kondusif dan tak terjadi apa-apa, bukan hanya di Surabaya namun juga di kota/kabupaten di seluruh Jatim,” imbuh pria dengan bintang dua di pundaknya.

Ia juga bersyukur upaya aparat kepolisian meredam aksi mahasiswa dengan iringan lantunan Asmaul Husna sepanjang aksi melalui pengeras suara di Masjid Kemayoran Surabaya mampu mendinginkan suasana.

“Mudah-mudahan aksi ini berakhir sebelum pukul 18.00 Wib. Kami bersama pimpinan DPRD Jatim sudah berupaya maksimal melakukan komunikasi yang baik dengan mahasiswa,” jelas Kapolda Jatim.

Sementara itu, Kusnadi selaku ketua DPRD Jatim bersama pimpinan dan anggota DPRD Jatim lainnya terlihat mondar-mandir menemui kerumunan mahasiwa paling tidak sebanyak tiga kali.

Yang pertama, di dampingi wakil ketua DPRD Jatim Sahat Tua Simanjuntak dan Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Sandy Nugroho, Kusnadi naik mobil komando mahasiswa dari UIN Sunan Ampel Surabaya yang ada di depan Bank BTPN.

Kedua, politisi asal PDI Perjuangan itu juga menemui mahasiswa di depan kantor DPRD Jatim. Dan terakhir (ketiga), ketua DPRD Jatim itu menemui kembali massa aksi yang belum puas dengan tuntutan mereka di depan kantor DPRD Jatim sekaligus membacakan dan menandatangani semua tuntutan mahasiwa.

“Kami mengapresisi betul apa yang dilakukan teman-teman mahasiswa pada hari ini. Kami juga mengucapkan terima kasih atas semua yang dilakukan mahasiswa dan apa yang diaspirasikan mahasiswa, seperti janji kami tadi diatas mobil komando mereka, kami akan menindaklanjuti dan memperjuangkan untuk disampaikan ke pemerintah pusat,” terang Kusnadi.

Surat tuntutan aliansi mahasiswa Jatim itu hari ini juga setelah kami tandatangani akan dikirim ke pemerintah pusat dengan tembusan kepada Presiden RI Joko Widodo dan DPR RI. “Tuntutan mahasiswa hari ini, hampir sama dengan mahasiswa yang aksi kemarin yang sudah kami kirimkan ke pemerintah pusat,” ungkap ketua DPD PDI Perjuanagan Jatim ini.

Sementara itu, Risyad Fahlevi ketua BEM FISIP Unair menegaskan bahwa aksi yang digelar ini, aliansi mahasiswa Jatim memiliki 6 tuntutan. Pertama, Mendesak pemerintah menerbitkan Perppu untuk pembatalan UU KPK dan merevisi kembali UU KPK yang sudah ada. Kedua, Mendesak pemerintah untuk menolak RKUHP dan melakukan pembahasan kembali pasal-pasal yang dianggap bermasalah.

Ketiga, Menolak RUU Ketenagakerjaan yang tidak berpihak kepada pekerja dan buruh. Keempat, Menolak pasal-pasal problematika dalam RUU Pertanahan, Kelima, Mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas permasalahan Karhutla dan menfasilitasi masyarakat yang terdampak.

“Terakhir atau keenam, mendorong pemerintah agar segera menyelesaikan permasalahan konflik di Papua serta membuka ruang dialog yang sebesar-besarnya bersama masyarakat Papua agar rasisme tidak terjadi lagi,” tegas Risyad Fahlevi.

Ia juga mengakui sidang rakyat di ruang paripurna DPRD Jatim adalah salah satu mekanisme mahasiswa agar bisa berdialog dengan anggota DPRD Jatim. Namun sayangnya upaya tersebut gagal dipenuhi oleh DPRD Jatim.

Disinggung soal adanya miskomunikasi antar elemen mahasiswa sehingga sempat terjadi aksi saling dorong dan lembar, Risyad mengaku kesulitan koordinasi karena ada 60 elemen mahasiswa yang bersama-sama turun ke jalan hari ini.

“Yang jelas, dari sekitar 3600 mahasiswa Unair yang ikut aksi hari ini tetap mengedepankan etika dan dialog. Ini sesuai dengan permintaan dari rektorat yang tidak melarang kami aksi asal dilakukan dengan tertib dan tidak anarkis,” pungkas Risyad Fahlevi. (tis)

Leave a reply