DPD IWAPI Bangun Kerjasama Dengan Kadin Institute Jatim

0
114

– Berharap ada payung hukum industri kreatif di Jatim untuk kembangkan industri

SabdaNews.com – Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Jawa Timur menandatangi kerjasama dengan Kadin Institute Jawa Timur dalam rangka memperkuat sinergi antara IWAPI dengan induk organisasi pengusaha dan mencetak kader-kader pengusaha handal di Jawa Timur.

Seremoni penandatangan MoU tersebut dilakukan oleh Hj Susmiati Rahmawati ketua DPD IWAPI Jatim dan Dr Jamhadi Direktur Kadin Institute Jatim disela kegiatan Farewell Party Kadin Jatim bersama peserta Rakernas IWAPI ke 29 disaksikan langsung ketum DPP IWAPI Nita Yudi, di kantor Kadin Jatim di Surabaya, Rabu (11/9/2019) malam.
Ketua DPD IWAPI Jatim Hj Susmiati Rahmawati mengatakan bahwa MoU ini sengaja dilakukan karena IWAPI yang menjadi bagian dari Kadin ingin membantu Kadin Institue khususnya untuk magang dan berbagi pengalaman serta mengakomodir lulusan Kadin Institute yang belum mendapatkan pekerjaan.

“Anggota IWAPI itu para pengusaha diberbagai bidang sehingga nantinya bisa memberikan pengalaman sebagai pengusaha bahkan magang bagi mahasiswa Kadin Intitute hingga membuka lapangan kerja bagi lulusan yang belum mendapatkan pekerjaan,” kata pengusaha rumah makan ini.

Lebih jauh perempuan berjilbab ini menjelaskan bahwa cukup banyak masukan IWAPI Jatim yang diakomodir dalam Rakernas IWAPI di Surabaya. Bahkan rekomendasi Rakernas juga sejalan dengan masukan dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa

“Tentu hasil rekomendasi Rakernas ini juga akan kami sosialisasikan ke pengurus cabang sehingga nantinya bisa bersinergi dengan pemerintah daerah setempat karena beberapa kementrian dan Pemprov Jatim sudah menjalin kerjasama sinergis di berbagai bidang dengan IWAPI,” jelas Rahmawati.

Sementara itu Direktur Kadin Institue Jatim, Dr Jamhadi menyatakan bahwa farewall party peserta Rakernas IWAPI ini memang difasilitasi oleh Kadin Jatim sekaligus ajang silaturahmi dan melihat langsung bahwa Jatim itu provinsi terbesar kedua di Indonesia dan berkontribusi sekitar 24,3% dari sisi industri.

“Saya lihat kalau ibu-ibu pengusaha ini tergabung dalam Kadin tentu ini merupakan suatu magnet yang luar biasa,” ujar Jamhadi.

Sedangkan menyangkut kerjasama dengan Kadin Institute tujuannya untuk mempertemukan kaum wanita pengusaha yang begitu telaten, cekatan untuk menangkap ide-ide Kadin Institute dan ditularkan kepada pengusaha wanita lainnya.
Di contohkan Jamhadi, bagaimana cara mengangkat UKM dan IKM kalau dikolaborasikan dengan IWAPI pasti bakalan cepat berkembang. Kemudian model UKM industri yang dikembangkan adalah industri komunal. “Makanya cukup dimaksimalkan spesifikasi namun yang mengerjakan adalah ibu-ibu di sekitar lokasi UKM industri. Dengan begitu industrinya akan berkembang,” jelasnya.

Selanjutnya, lanjut Jamhdi adalah komunal branding juga harus dibuat di masing-masing daerah dan jangan sampai nanti hadir organizer lalu produknya kembar. “Itu nanti malah gak akan membantu pengembangan industri. Saya lihat Trenggalek dan Pamekasan sudah melaksanakan sedangkan daerah-daerah lain belum terlihat serius sehingga memang diperlukan gerakan diantaranya melalui MoU dengan IWAPI ini,” katanya.

Ia mengaku prihatin karena kaum millenial sekarang ini banyak yang terpengaruh dengan penggunaan gadget hanya untuk melancarkan pemasaran (reseller) bukan ke produksi. Ironisnya lagi hasil penelitian menunjukkan bahwa barang yang dipasarkan itu 83% nya adalah berasal luar atau import.

Karena itu, pihaknya sangat khawatir dan sudah terbukti bahwa sekarang ini secara nasional posisi industri terhadap PDRB cenderung terus menurun. Kalau tahun lalu sumbangsih industri terhadap PDRB masih 24% tapi sekarang tinggal 19%. Dan dua tahun sebelumnya bakan bisa menembus 36%.

“Saya meyakini akan semakin cepet tergerus karena banyaknya kaum millenial mengembangkan jasa marketing tetapi justru menggerus industri sendiri. Dengan adanya MoU tadi kita ingin mengembalikan marwah industri di negeri sendiri supaya subtitusi industri bisa terjadi,” beber Jamhadi.

Kadin institute juga akan mendorong adaya Perda Industri Kreatif di berbagai daerah sebagai landasan hukum pengembangan industri kecil dalam negeri. “Kita sudah mengusulkan di Kota Surabaya tapi hingga sekarang belum disahkan. Kita ingin Perda ini juga dibikin di Provinsi Jatim sehingga kabupaten/kota di Jatim bisa menirunya,” harap Jamhadi.
Prinsip dari kerjasama itu adalah memperkuat industri, supplay dan konsumsi. Sebab konsumsi itu 50% nYa adalah trigger atau mesin pertumbuhan ekonomi industri. Sehingga simbiosis mutualisme dengan IWAPI ini bisa menjadi penguatan industri dan meningkatkan kontribusi PDRB dari industri. (tis)

Leave a reply