Pinbas MUI Jatim Siap Bantu Jatim Swasembada Bawang Putih

0
51

– Pemprov akan bantu terapkan teknologi pertanian dan Bibit Unggul untuk tingkatkan kualitas

SabdaNews.com – Hampir 95 persen kebutuhan bawang putih di Jatim dipenuhi dengan cara mengimpor dari negara lain, terutama Tiongkok. Sebab dari kebutuhan bawang putih Jatim yang mencapai 56.580 ton pertahun hanya mampu dicukupi dari produksi lokal sebanyak 3.040 ton setiap tahunnya.

Padahal potensi sektor pertanian Jatim tidak bisa dikatakan minim. Justru sebaliknya, potensi pertanian Jatim besar dan melimpah. Karena itu, Pemprov Jatim bersama Pusat Inkubasi Bisnis Syariah Majelis Ulama Indonesia (Pinbas – MUI) Jatim tengah gencar menggalakkan menanam bawang putih guna menuju swasembada bawang putih di Jatim.

Setelah tiga bulan masa tanam di sejumlah daerah, hasil panen perdana bawang putih akhirnya berhasil dilakukan di Desa Sempol Kecamatan Ijen Kabupaten Bondowoso, Sabtu (3/8/2019) lalu.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa hadir khusus menyaksikan hasil panen perdana bawang putih yang ditanam di 41 hektar lahan Perhutani tersebut. Meski kualitas bawang putih lokal ini masih butuh dilakukan peningkatan, perempuan yang juga mantan Mensos itu optimistis bahwa ini akan inisiasi kesuksesan swasembada bawang putih Jatim ke depan.

“Keputusan Menteri Pertanian, mewajibkan bagi siapa yang mengimpor bawang putih maka harus diikuti dengan menanam 5 persen. Mungkin tidak semua punya lahan, tidak semua mempunyai kemampuan menanam, maka melalui Pinbas MUI Jatim menginisiasi bahwa kita sangat memungkinkan untuk swasembada bawang putih,” kata Khofifah.

Dalam penanaman bawang putih yang dipanen hari ini, Pinbas MUI Jatim sudah bekerja sama dengan Perhutani Divre Jatim. Lahannya mendapat support dari Perhutani, sedangkan untuk yang menanam bawang putihnya dilibatkan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

“Kalau kita bisa mendapat bibit yang baik, teknologi yang sesuai dengan topografi tanah, dan ada pendampingan sejak mulai penanaman, maka bukan tidak mungkin kita bisa swasembada bawang putih ke depannya,” tegas Khofifah.

Di hasil panen perdana ini, diakui Khofifah secara kualitas bawang putihnya belum sebaik bawang putih yang biasa diimpor dari Tiongkok. Untuk itu dibutuhkan adanya peningkatan kualitas dengan sentuhan teknologi pertanian dan bibit yang unggul.

“Hari ini sedang ada calon investor yang akan berinvestasi di sektor hortikultura, mereka sudah keliling Jatim tiga hari ini, saya sudah WA beliau dan mengirimkan foto-foto bawang putih lokal kita,” terang khofifah

Meski kurang bisa bersaing lantaran ukurannya yang masih terlalu kecil, Khofifah mengatakan bahwa bawang putih jenis ini masih akan laku jika dijual untuk bahan obat-obatan. Atau paling tidak mencukupi kebutuhan bawang putih lokal. Karenanya, ia menugasi langsung pejabat Pemprov Jatim untuk membawakan bawang putih Bondowoso ini pada calon investor tersebut.

Dengan begitu ia berharap akan ada teknologi pertanian yang diterapkan untuk peningkatankualitas bawang putih lokal Jatim. “Bibit, teknologi, pendampingan. Tiga hal ini harus ada dalam mengintervensi sektor pertanian kita. Bibitnya kita siapkan, teknologinya kita bantu, dan pendampingannya kita lakukan,” ucap Khofifah.

Jika inisiasi penanaman bawang putih lokal ini diintroduksi dengan baik, penyediaan lahan juga mencukupi, maka dikatakan Khofifah ini, LMDH di sekitar Ijen akan mendapatkan ruang percepatan penyejahteraan ekonomi.

Sementara itu Ketua Pinbas – MUI Jatim Wahid Wahyudi mengatakan panen perdana bawang putih ini adalah hasil budidaya Pinbas-MUI Jatim. Ini adalah bukti nyata bahwa kini MUI bukan hanya berurusan dengan fatwa dan akhlaq. Melainkan juga mengembangkan sayap di sektor ekonomi riil.

“Kebutuhan bawang putih Jatim per tahun sekitar 56.580. Sedangkan kemampuan produksi bawang putih Jatim hanya 3.040 ton saja. Sehingga 94.4 persennya diimpor dari luar negeri, terbanyak dari Tiongkok,” tegas Wahid.

Bawang putihimpor secara fisikbutirannya lebih besar. Dan harganya lebih murah, senilai Rp 22 ribu perkilogramnya. Sedangkan bawang putih lokal dengan kualitas yang diketahui, harganya Rp 50 ribu perkilogramnya.

“Dari segi bisnis memang kalah. Tapi sekarang ada kewajiban bagi pengimpor bawang putih untuk menanam 5 persen dari jumlah bawang putih yang diimpor,” katanya.

Untuk itu, dikatakan pria yang juga Asisten II Setdaprov Jatim itu, dari 41hektar yang ditanami 12 hektar diantaranya belum panen. Luasan 12 hektar bawang putih tersebut sengaja dipanen terlambat untuk dikembangkan sebagai bibit bawang putih baru. (tis)

Leave a reply