PWNU Ingatkan Gubernur Jatim Tidak Angkat Pejabat Terpapar Radikalisme 

0
228

SabdaNews.com – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut hal yang penting untuk diterapkan guna menjaga dan mewujudkan Jawa Timur aman, tenteram dan lebih harmoni, yakni terus membangun silaturahmi dengan para kiai. Khofifah menyebut, harmonisasi itu diantaranya untuk menangkal gerakan-gerakan sistemik dan guna mereduksi intoleransi dan radikalisme.

“Untuk menangkal dua hal itu (radikalisme dan intoleransi), hal paling penting sebagai pintu masuk yang kuat adalah melalui pendidikan pesantren,” ujar Khofifah usai mengikuti pertemuan tertutup dengan jajaran pengurus PWNU Jawa Timur di RM Agis, Surabaya, Selasa (23/7/2019).
Apakah jurus penangkal itu akan diterapkan melalui kurikulum di sekolah? Khofifah enggan menjelaskan secara rinci. “Silahkan, tanya sama para kiai saja,” dalihnya sambil mengarahkan pandangan ke KH Agoes Ali Mashuri yang ada disampingnya.
Sementara iti Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar
mengatakan untuk menangkal paham radikalisme dan intoleransi harus dimulai dari Pemerintahan Provinsi. Yakni, dengan tidak menempatkan orang-orang yang terpapar radikalisme di jabatan-jabatan penting.
“Itu harus dimulai dari Pemprov Jatim, kita tadi meminta dan mengusulkan agar mewaspadai paham radikalisme. Kita minta untuk berhati-hati dalam mengangkat pejabat misalnya kepala sekolah, kepala rumah sakit dan pejabat lainnya terpapar radikalisme atau tidak. Semua harus bersih dari radikalisme, harus full NKRI dan Pancasila, disamping ada syarat kepangkatan yang memang menjadi ketentuan,” pinta Kiai Marzuki Mustamar.
Dalam pertemuan itu, juga tampak Pejabat Pelaksana (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, Hudiyono. Namun, sudah bergegas meninggalkan tempat, sebelum sempat dimintai keterangan, misalnya soal rencana kurikulum di sekolah terkait anti radikalisme dan intoleransi yang juga menjadi topik bahasan Gubernur Khofifah dengan PWNU Jatim. (pun)

Leave a reply