Investasi Pembangunan PLTSa di Jatim Butuh 20 Miliar

0
199

SabdaNews.com – Upaya Pemprov Jawa Timur memenuhi target tahun 2025 pemanfaatan energi terbarukan sebesar 16,8 persen sebagai pembangkit listrik terus dimatangkan. Namun merealisasikan target tersebut dibutuhkan anggaran cukup besar sehingga jika tidak mungkin dibebankan kepada pemerintah sendirian

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Setiajid mengatakan, untuk bisa menggunakan energi terbarukan dari sampah menjadi listrik setidaknya diperlukan investasi Rp 20 milliar. Angka itu guna membuat alat pirolisi.

“Alat tersebut bisa menggerakkan power plant ya sekitar 7,8 juta mega watt,” ujar Setiajid saat dikonfirmasi, Selasa (16/7/2019).

Selama ini rata-rata dari 11 pabrik kertas, 8 diantaranya memiliki limbah plastik yang tersisa dari bahan baku. Meski tidak banyak, hanya 0,1 persen dari total bahan baku yang digunakan, namun hasilnya cukup membantu mengurangi beban listrik dari energi non fosil.

“Dnas ESDM meminta kepada perusahaan itu untuk mengembangkan mesin yang dinamakan pirolisis. Itu bisa mengolah plastik menjadikan minyak yang bisa menjadi energi listrik,” ungkapnya.

Selain meminta pabrik kertas yang ada di Jatim untuk membuat pembangkit listrik tenaga sampah, Pemprov Jatim juga membidik hal serupa di 8 kluster. Diantaranya di Surabaya, Madiun, Malang, Jember Probolinggo, Banyuwangi, dan Kediri.

“Setidaknya ada satu perusahaan yang membuat pembangkit listrik tenaga sampah di setiap kluster,” harap Setiadjit.

Ia berharap dengan begitu target sesuai rencana umum energi daerah 16,8 mega watt di 2025, dan 2050 sekitar 50,6 mega watt terpenuhi.

Terpisah, anggota Komisi D DPRD Jatim Aliyadi Mustofa berharap, pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) bisa juga dibangun di Madura.

“Saya berharap jika bu gubernur ingin mengembangkan PLTSa dikembangkan di Madura. Karena untuk pemenuhan listrik bagi masyarakat Madura belum merata,” ujar Aliyadi.

Lebih jauh politisi asal Madura itu menjelaskan bahwa masyarakat di wilayah kepulauan di Madura khususnya di Sumenep belum menikmati aliran listrik. Hampir 35 persen masyarakat Sampang belum bisa menikmati listrik secara baik. (pun)

Leave a reply