Gus Dur Terima Peace Award Dari Zhenghe International Peace Forum

0
58

– UIN Sunan Ampel didapuk menjadi tuan rumah

SabdaNews.com – Presiden RI keempat (Alm) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menerima penghargaan dari Zhenghe Internastional Peace Forum. Penghargaan tersebut diberikan karena Gus Dur dinilai memiliki jasa besar terhadap masalah perdamaian dan keberagaman di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya.

Penghargaan tersebut disampaikan langsung Chairperson Zhenghe Internastional Peace Forum kepada Ibu Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid selaku istri Gus Dur bersamaan dengan pembukaan Konferensi International Zhenghe ke 5 di JX International Jalan A Yani Surabaya, Senin (15/7/2019) malam.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa usai membuka secara resmi Konferensi International Zhenghe ke 5 yang akan dilangsungkan di kampus UIN Sunan Ampel Surabaya, mengatakan bahwa Zhenghe International Peace Forum pusatnya berada di Washington DC didirikan oleh peneliti dari Amerika Serikat, Tiongkot, Malaysia dan Uni Emirat Arab serta ulama dunia yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang Islam dan mempererat komunikasi yang harmonis diantara masyarakat dunia Tionghoa dan masyarakat muslim.

“Kita bersyukur Konferensi Internasional Zhenghe ke 5 di tempatkan di Surabaya Provinsi Jawa Timur Indonesia. Apalagi Presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid juga diberi Zhenghe Peace Award. Ini juga berkat peran PITI dan yayasan Haji Mohammad Cheng Ho yang ada di Jatim,” ujar gubernur perempuan pertama di Jatim.

Menurut Khofifah, Alm Gus Dur sudah meninggalkan kita 10 tahun lalu, namun jejak perjuangan, pemikiran yang sudah beliau dedikasikan untuk bangsa, negara dan umat di dunia tidak pernah lekang oleh waktu. “Kita juga selalu diingatkan betapa pentingnya sebuah perdamaian, persaudaraan dan penghormatan atas seluruh harkat dan martabat kemanusiaan. Mudah-mudahan kita semua bisa mengikuti jejak beliau,” harap mantan Mensos RI ini.

Pesan terpenting dari penyelenggaraan Zhenghe International Peace Forum, kata Khofifah adalah bagaimana membangun pemikiran konstruktif untuk senantiasa saling memahami satu elemen dengan elemen yang lain, satu budaya dengan budaya yang lain, satu kekuatan dengan kekuatan yang lain, satu entitas dengan entitas yang lain maupun satu bangsa dengan bangsa yang lain dalam satu suasana yang penuh penghormatan diantara yang satu dengan yang lain.

“Kami berharap perspektif tentang Tionghoa itu akan terbangun lebih luas dan terbangun lebih cerah. Menurut saya ada komunitas muslim dari 12 negara hadir dan mereka ingin membangun perspektif bagaimana sebetulnya kita yang satu dengan yang lain bisa saling membangun suasana damai dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan di muka bumi,” tegas ketum PP Muslimat NU ini

Di jelaskan Khofifah, Jawa Timur adalah provinsi yang bisa membangun sinergitas yang luar biasa diantara seluruh dinamika dan keberagaman, penuh dengan ketentraman, penuh kedinamisan, penuh kedamaian dan penuh dengan kenyamanan.

“Kami berharap semua elemen baik peserta, narasumber dan seluruh elemen strategis di Jatim akan dapat memberikan kontribusi terbaiknya selama penyelenggaran Konferensi International berlangsung,” ujar Khofifah.

Even international ini sangat bergensi dan bertaraf international, karena itu Gubernur Khofifah juga berharap melalui forum ini diharapkan bisa menyemai perspektif diantara seluruh warga bangsa, perspektif diantara seluruh warga Jatim tentang bagaimana melihat dinamika kehidupan kebangsaan, kemanusiaan, keagamaan dan keumatan diantara satu bangsa dengan bangsa yang lainnya.

Konferensi International Zhenghe ke 5 berlangsung di kampus UIN Sunan Ampel Surabaya, akan menghadirkan 10 narasumber dari luar negeri yang berasal dari empat negara, yakni Tiongkok, Malaysia, Taiwan dan Amerika Serikat.

Kemudian tamu negara berjumlah 15 orang berasal dari Tiongkok dan Malaysia. Sedangkan pembicara dari dalam negeri sebanyak 33 orang, sehingga total peserta Konferensi International Zhenghe ke 5 adalah sebanyak 58 peserta.

“Tentu kita semua akan punya tugas untuk mendesiminasikan. Makanya saya meminta siswa, guru juga diundang, tujuannya supaya perspektif kita tentang damai dan keberagaman itu bisa memperkukuh persaudaraan dan persatuann kita sebagai sebuah bangsa,” ungkap Khofifah

Sementara itu ketua panitia Konferensi International Zhenghe ke 5, Prof Masdar Hilmi mengaku sangat gembira karena UIN Sunal Ampel dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan yang sangat bergensi dan bisa mengangkat nama UIN Sunan Ampel ke panggung dunia.

“Mudah-mudahan kegiatan ini mampu memberikan kontribusi signifikan kepada dunia, terutama dalam hal perbaikan relasi saling memahami antar komunitas muslin dengan komunitas non muslim khususnya di Indonesia dan Tiongkok,” kata Masdar Hilmi.

Lebih jauh Rektor UIN Sunan Ampel ini menambahkan bahwa media di Indonesia masih sering memberitakan secara miring terhadap apapun yang berbau Tiongkok, baik sebagai etnis masyarakat maupun sebagai negara bangsa.

“Makanya The Five Zhenghe International Peace Forum ini kegiatannya didesain untuk menciptakan perdamaian pemahaman bersama antara komunitas muslim dan non muslim,” pungkas Prof Masdar Hilmi. (tis)

Leave a reply