Gubernur Khofifah Siapkan Pipanisasi dan Sumur Bor Atasi Kelangkaan Air Bersih di Jatim

0
241

– Kerjasama dengan 24 Kab/Kota yang alami kekeringan

SabdaNews.com – Memasuki puncak musim kemarau, sedikitnya ada 24 kabupaten/kota di Provinsi Jatim yang mengalami kekeringan dan kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih masyarakatnya. Oleh karena itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengambil langkah taktis dengan membentuk tim satgas atasi kekeringan.

Berdasarkan laporan dan pemetaan tim satgas kekeringan, kata Khofifah daerah-daerah yang mengalami kekeringan itu dapat dikategorikan dua macam, yakni kekeringan langka dan kekeringan kritis. Karena itu penanganan dua jenis kekeringan itu juga berbeda

Mengingat, air bersih adalah kebutuhan strategis masyarakat, maka penanganan kekeringan juga perlu direncanakan secara lebih sinergis agar bisa menjadi solusi jangka panjang.

“Daerah yang kekeringannya kritis, kita akan upayakan melakukan pipanisasi dan pembangunan tandon air karena itu lebih efisien dibanding mengirim truk tangki yang juga masih perlu tandon-tandon air,” ujar Khofifah saat dikonfirmasi Senin (15/7/2019).

Di contohkan, di Bondowoso ada daerah untuk mengakses air bersih harus menempuh jarak 25 km saat musim kemarau seperti saat ini. Namun di saat musim penghujan daerah tersebut juga rawan banjir sehingga memenuhi kebutuhan air bersih juga sulit.

“Daerah-daerah seperti ini, penanganannya sebaiknya memang dilakukan pipanisasi,” tegas gubernur perempuan pertama di Jatim.

Sementara untuk daerah-daerah yang mengalami kekeringan langka, lanjut Khofifah akan dilakukan pengeboran karena daerah tersebut masih memiliki sumber air tanah yang mencukupi. “Kalau tidak melalui pengeboran ya pipanisasi, itu solusi atasi kesulitan air bersih di wilayah Jatim, tinggal hasil pemetaan tim satgas nanti seperti apa yang paling efektif,” beber Khofifah.

Kedua program mengatasi kelangkaan air bersih ini, kata Gubernur Khofifah akan dikomunikasikan lebih intensif dengan para bupati dan walikota di Jatim.

“Mudah-mudahan tetap bisa kita jaga karena hari ini ada yang baru tanam seperti di Blitar dan ada pula yang mau panen raya seperti di Jombang sehingga kemarau ini tak mengganggu produktivitas petani,” jelasnya.

Ia juga mengakui harga cabe rawit mulai naik kisaran 40 ribu – 50 ribu perkilogram karena masa panennya sudah selesai. Untuk menjaga stabilisasi harga cabe rawit, pihaknya akan melakukan deteksi dimana sebetulnya daerah sudah bisa dipanen sehingga bisa segera dikomunikasikan dengan sentra-sentra pasar induk.

“Jadi pada saat ada surplus yang cukup signifikan sehingga harga cabe rawit jatuh itu terus kami komunikasi antar kabupaten kota se Jawa Timur maupun komunikasi dengan provinsi lain melalui kantor perwakilan dagang untuk menjaga supplay and deman tetap balancing,” pungkas Khofifah. (pun)

Leave a reply