Ekspedisi Destana BNPB Dimulai Dari Banyuwangi, Berakhir di Banten

0
297

Ekspedisi Destana BNPB Dimulai Dari Banyuwangi, Berakhir di Banten
– 584 Desa Rawan Gempa dan Tsunami di Jawa Disulap Jadi Desa Tangguh Bencana

SURABAYA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berkunjung ke Gedung Negara Grahadi Surabaya untuk bertemu dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sekaligus minta ijin karena rombongan dan tim BNPB akan melakukan serangkaian kegiatan di Kabupaten Banyuwangi.

Salah satu aktivitas yang dilakukan adalah melepas tim ekspedisi Destana (Desa Tangguh Bencana). Ekspedisi 584 desa rawan gempa dan tsunami ini, startnya sengaja dimulai dari Bayuwangi karena tahun 1994 lalu pernah terjadi gempa dan tsunawi di wilayah Banyuwangi yang memakan korban lebih dari 250 orang.

“Kami ingin mengingatkan kembali ingatan masyarakat supaya tidak lupa sebab peristiwa itu sangat mungkin berulang karena ini peristiwa alam sehingga ada siklusnya atau uang tahunya hanya saja kapan itu kita tidak tahu, makanya perlu senantiasa waspada,” ujar Kepala BNPB Letjen Doni Monardo saat dikonfirmasi Kamis (11/7/2019) malam.

Ekspedisi Destana 2019 ini, lanjut Doni bukan hanya di Banyuwangi tapi meliputi seluruh desa yang ada di wilayah pesisir selatan Pulau Jawa yang berakhir di Provinsi Banten. Daerah-daerah yang pernah terjadi gempa dan tsunami seperti di Pangandaran dan Banten akan menjadi prioritas dari tim ekspedisi BNPB.

“Daerah yang termasuk prioritas bukan hanya dikunjungi tapi juga akan diberikan edukasi kepada penduduk dan sekalian memberikan pola-pola kesiapsiagaan (mitigasi). Sehingga masyarakat tidak perlu takut dan khawatir, yang penting kalau ada kejadian mereka harus tahu bagaimana cara mereka untuk menyelamakan diri,” jelas Doni Monardo.

Dicontohkan, jika ada gempa besar yang dirasakan oleh penduduk sekitar 30 detik maka kurang dari 3 menit tanpa ada peringatan dari alarm atau sirine karena mungkin tidak semua Desa punya fasilitas sirine dan alarm peringatan maka mereka harus segera meninggalkan daerah yang rendah ke tempat yang tingginya sekitar 30 meter.

“Jadi gampang mengingatnya, 30 detik kurang dari 30 menit segera menuju tempat yang ketinggiannya 30 meter,” kata Doni Monardo didampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Ia mengakui praktek di lapangan banyak ditemui kendala, sebab tidak semua desa memiliki bukit yang tinggi. Karena itu kami mengajak masyarakat untuk melihat apa yang ada di sekitar pesisir yang dapat dimanfaatkan. Mengingat, kecepatan air saat terjadi tsunami bisa hitungannya kurang dari 10 menit untuk mencapai pemukiman penduduk.

Makanya kita sampaikan jika ada pohon yang besar hendaknya disiapkan tangga atau tali disitu sehingga sewaktu-waktu terjadi tsunawi masyarakat sudah bisa terlatih. “Kami juga akan mengajak masyarakat supaya jangan melakukan tindakan yang dapat merusak ekosistem. Terutama manggrov sebab itu bisa menjadi benteng perlindungan masyarakat dari tsunami,” bebernya.

Disisi lain, pihaknya juga mengajak masyarakat pesisir untuk mulai memperbanyak vegetasi (tanaman) yang umurnya bisa ratusan tahun dan diameter batangnya bisa sampai 1-2 meter bahkan ketinggian pohonnya bisa mencapai 30 meter lebih. “Jadi kalau mulai sekarang harus sudah dirancang sebab kita tidak tahu kapan datangnya musibah itu. Ini juga sama dengan menyiapkan generasi yang akan datang supaya selamat,” imbuhnya.

BNPB dalam ekspedisi desatana juga akan melibatkan semua pihak termasuk para ulama, tokoh masyarakat dan budayawan untuk menggali potensi-potensi daerah sebab setiap daerah tidak sama sehingga pendekatan-pendekatan ini kita harapkan efektif dan bisa membuat masyarakat sadar.

Ia juga menghimbau para pemimpin di daerah terutama Bupati/walikota, sampai dengan Camat dan kepala desa harus mengetahui apa potensi ancaman daerah masing-masing. Kemudian bagaimana menyiapkan strateginya sehingga mengetahui apa masalahnya dan harus bisa mencarikan solusinya agar kita semuanya bisa selamat.

“Pelayanan publik yang terbaik adalah bagaimana negara hadir memberikan perlindungan kepada masyarakat dan meyelamatkan jiwa manusia,” tegas Letjen Doni Monardo. Jadi inti kegiatan ekspedisi ini adalah memberikan sosialisasi dan pelatihan-pelatihan sampai dengan tingkat keluarga.

Ia mencontohkan, di daerah-daerah yang terpencil tidak ada teknologi atau alat untuk bisa memberikan peringatan mereka, maka kita kasih tahu kalau malam itu mungkin belum tidur meletakkan barang yang gampang jatuh seperti kaleng. Sehingga begitu ada gempa, kalengnya jatuh itu tanda bahwa dia harus segera meninggalkan rumah.

Ditegaskan Doni hingga saat ini belum ada satupun teknologi yang bisa mengetahui kapan gempa akan terjadi tetapi pengetahuan terus berkembang. Mudah-mudahan di kemudian hari teknologi bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi tetapi sejauh ini yang sangat akurat belum ada, hanya saja yang mendekati akurat sudah mulai banyak.

“Mudah-mudahan dengan perkembangan kemampuan anak bangsa juga mungkin perkembangan dunia semakin bagus ya kemampuan manusia untuk bisa menemukan alat tersebut,” harapnya.

Siklusnya seperti yang terjadi di Pantai Selatan Banten pernah ditemukan hasil penelitian dari sejumlah pakar termasuk dari doktor Eko Julianto, hasil uji dengan menggunakan teknik karbon ternyata lapisan karang yang paling bawah berusia 3000 tahun dan diatasnya lagi 1600 tahun dan diatasnya lagi usianya 300 tahun.

Artinya periodesasinya dapat diketahui kisaran 1600 atau 1500 tahun. Kemudian di Pangandaran pernah ada juga soal tsunami ini juga perlu diketahui periodisasinya, tapi kapan terjadinya lagi itu Wallahu A’lam (Hanya Allah Yang Tahu)

Senada, Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Lilik Kurniawan menambahkan BNPB mencatat, terdapat 5.744 desa rawan bencana di Indonesia. Sebanyak 584 di antaranya berada di selatan Jawa. Makanya ekspedisi Destana akan dimulai ke daerah tersebut.

“Ini menjadi hal yang penting kenapa kita lakukan ekspedisi Destana di Selatan Jawa, karena dari 584 desa tadi ada kurang-lebih 600 ribu masyarakat kita yang tinggal di desa itu rawan tsunami. Sebelum tsunami terjadi kita harus tangguhkan masyarakat di sana,” ujarnya.

Ekspedisi BNPB digelar pada 12 Juli-17 Agustus 2019 dan melibatkan beberapa instansi terkait, dari kementerian, pemerintah daerah, lembaga masyarakat, para pakar, hingga relawan. Nantinya, mereka akan mendatangi masyarakat secara langsung dan memberikan edukasi serta simulasi ketika menghadapi bencana.

“Ekspedisi ini akan berlangsung selama 34 hari terbagi menjadi 4 segmen, Jawa Timur 11 hari, kemudian Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Banten. Masing-masing segmen akan diikuti oleh 200 orang peserta dari beberapa unsur ada pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, para pakar,” beber Lilik.

Ekspedisi ini sekaligus juga akan memberikan penilaian terkait ketangguhan ke 584 desa itu. Penilaian itu yang nantinya akan menjadi evaluasi BNPB untuk mitigasi terjadinya gempa dan tsunami.

“Kita akan datang ke desa itu untuk mengecek apakah semua desa sudah punya sirene untuk peringatan tsunami, apakah di setiap desa ada tempat evakuasi, sudah adakah jalur evakuasi, sudah adakah rambu-rambu evakuasi yang ada di sana, sehingga diharapkan desa tersebut menjadi desa tangguh bencana,” pungkasnya.(pun)

Leave a reply